DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM RANGKA PENGURANGAN RISIKO BANJIR DI KECAMATAN SUNGAI TABUK | |
| PENGARANG | : | RUSMANIAH | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-08-22 |
ABSTRAK
Rusmaniah (2026). Model Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Pengurangan Risiko BanjirdiKecamatanSungaiTabuk.Disertasi.ProgramPascasarjana Program Studi Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Lambung Mangkurat. Promotor: Prof. Dr. Deasy Arisanty, S.Si., M.Sc., Kopromotor I: Prof. Dr. Drs. Ersis Warmansyah Abbas, BA, M.Pd., Kopromotor II: Dr. Parida Angriani, S.Pd., M.Pd.
Bencana banjir menimbulkan kerugian material serta dampak sosial dan lingkungan. Pengurangan risiko bencana memerlukan upaya mitigasi yang komprehensif dan berkelanjutan, termasuk melalui pemberdayaan masyarakat. Kabupaten Banjar merupakansalahsatuwilayahdengankerawananbanjiryangtinggidiKalimantanSelatan, dan Kecamatan Sungai Tabuk memiliki jumlah desa terdampak banjir terbanyak. Namun, pemberdayaan masyarakat masih menghadapi keterbatasan akses pelatihan dan sumber daya, rendahnya kesadaran pengelolaan lingkungan, serta partisipasi dalam mitigasi bencana.Penelitianinibertujuanmenganalisis:(1)potensimasyarakatdalampengurangan risiko bencana banjir; (2) peran pemerintah dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat; (3) model pemberdayaan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana banjir; dan (4) penguatan model pemberdayaan masyarakat di Kecamatan Sungai Tabuk.
Penelitian menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan melalui angket, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi.Sampelpenelitianberjumlah655orangdariduadesayangterdampakbanjir dengankedalamantinggi.Datadianalisismenggunakan StructuralEquation Modeling (SEM), kemudian diinterpretasikan dan diperkuat melalui FGD.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) potensi masyarakat dalam pengurangan risiko banjir didukung oleh modal fisik, kemampuan pelaku pemberdayaan, dan proses pemberdayaan, sedangkan modal manusia dan modal sosial belum optimal, antara lain karena rendahnya kesadaran pengelolaan sampah serta belum adanya organisasi dan program khusus penanganan banjir; (2) Pemerintah Kecamatan Sungai Tabuk berperan dalam koordinasi, perencanaan, dan pelaksanaan program mitigasi. BPBD berperan sebagaiaktorteknismelaluiprogram,pelatihan,peringatandini,mitigasi,tanggapdarurat, pemulihan, kerja sama lintas sektor, serta pemantauan dan evaluasi, meskipun pelaksanaannya belum merata di seluruh desa rawan banjir. Tokoh masyarakat berperan sebagai penggerak sosial melalui edukasi lingkungan, bantuan saat banjir, gotong royong, partisipasi, dan fasilitasi diskusi; (3) modal sosial (p = 0,520) dan modal manusia (p = 0,913)tidakberpengaruhsignifikanterhadappemberdayaanmasyarakat,sedangkanmodal fisik,kemampuanpelakupemberdayaan,danprosespemberdayaanberpengaruhsignifikan (p=0,000);dan(4)penguatanmodeldilakukanmelaluipemetaaninfrastruktur,peringatan dini,penyediaanTPS,transportasidankomunikasi,peningkatandapurumumdanlayanan kesehatan, pembangunan siring, pembentukan komunitas siaga bencana, pembinaan berbasis komunitas, pembangunan rumah panggung, serta pengelolaan sampah. Model pemberdayaan masyarakat mengintegrasikan modal fisik, kemampuan pelaku pemberdayaan, dan proses pemberdayaan sebagai faktor penguat utama, serta menempatkan pengalaman menghadapi banjir berulang yang membentuk kearifan lokal masyarakat lahan basah sebagai dasar kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat.
Katakunci:pemberdayaanmasyarakat,risikobencana,banjir,kesiapsiagaan
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI