DIGITAL LIBRARY



JUDUL:POLA DISTRIBUSI PARTIKEL SEDIMEN TERSUSPENSI MENGGUNAKAN MIKE 21 FLOW MODEL (FM) DI PERAIRAN SUNGAI TAPIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
PENGARANG:MITHA SARI RACHMAYANTI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-08-25


Mitha Sari Rachmayanti, 2026. Pola Distribusi Partikel Sedimen Tersuspensi Menggunakan MIKE 21 Flow Model (FM) di Perairan Sungai Tapin Provinsi Kalimantan Selatan. Pembimbing: Prof. Ir. Basir Achmad, M.S., Ph.D.; Prof. Ir. Fadly Hairannoor Yusran, M.Sc., Ph.D., IPU; Prof. Dr. Ir. Fatmawati, M.Si.

 

Sungai Tapin merupakan salah satu wilayah aliran sungai penting di Provinsi Kalimantan Selatan yang menerima beban sedimen dari proses alami maupun aktivitas antropogenik, terutama pengerukan tambang batubara di wilayah DAS Tapin, sehingga berpotensi meningkatkan konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) dan menurunkan kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis konsentrasi dan pola distribusi TSS di aliran Sungai Tapin, dan (2) memodelkan pola sebaran TSS menggunakan MIKE 21 Flow Model (FM) berdasarkan data hidrodinamika yang meliputi debit sungai, curah hujan, batimetri, pasang surut, dan arus. Metode yang digunakan adalah pemodelan numerik hidrodinamika dua dimensi, dengan data batimetri hasil survei Topo-LiDAR yang diinterpolasi menggunakan metode Kriging, data pasang surut dari fitur Tide Prediction of Height, data curah hujan dari PDIR-Now, serta data debit dan arus dari pengukuran current meter lapangan, yang selanjutnya diintegrasikan ke dalam simulasi Hydrodynamic Module dan Mud Transport Module MIKE 21 FM.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi TSS di Sungai Tapin sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrodinamika, terutama debit sungai dan curah hujan, dengan curah hujan bulanan berkisar 316–320 mm serta debit 46,5 m³/det pada bagian tengah sungai dan 14,0 m³/det pada bagian tepi. Elevasi muka air hasil pasang surut berfluktuasi antara +1,464 m hingga −1,462 m, kedalaman perairan bervariasi antara kurang dari 0,6 m hingga lebih dari 9,0 m, sedangkan kecepatan arus tergolong relatif rendah baik pada kondisi pasang maupun surut. Konsentrasi TSS tertinggi pada titik point source dengan nilai lebih dari 640 mg/L-1), kemudian menurun secara bertahap akibat proses adveksi, dispersi, pengenceran, dan sedimentasi hingga didominasi kisaran 80–120 mg/L-1)  pada badan sungai utama.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, seluruh konsentrasi TSS yang diperoleh, baik pada point source maupun badan sungai utama, masih berada di atas baku mutu air Kelas II sebesar 50 mg/L-1), sehingga mengindikasikan adanya tekanan terhadap kualitas perairan Sungai Tapin akibat tingginya beban sedimen selama musim hujan. Secara keseluruhan, model MIKE 21 FM terbukti mampu merepresentasikan pola sebaran TSS secara spasial dan berfungsi sebagai decision support tool yang efektif, efisien, dan cukup akurat, namun perlu didukung oleh kalibrasi model dengan data lapangan yang lebih banyak, pengendalian erosi di daerah tangkapan air, optimalisasi pengelolaan limpasan dan sedimen dari aktivitas pertambangan, serta pemantauan kualitas air secara berkala agar pengelolaan Sungai Tapin dapat berlangsung secara berkelanjutan

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI