DIGITAL LIBRARY



JUDUL:ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KETIMPANGAN GENDER DI INDONESIA MENGGUNAKAN ORDINAL LOGISTIC REGRESSION DAN GEOGRAPHICALLY WEIGHTED ORDINAL LOGISTIC REGRESSION
PENGARANG:SYAFFA DINDA AYU RAMADHANI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-09-07


Ketimpangan gender merupakan salah satu isu pembangunan yang dapat menghambat pemanfaatan sumber daya manusia secara optimal. Meskipun Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Indonesia menunjukkan tren menurun secara nasional, kondisi tersebut belum tentu mencerminkan pemerataan antarprovinsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi IKG tahun 2024 pada 38 provinsi di Indonesia menggunakan metode Ordinal Logistic Regression (OLR) dan Geographically Weighted Ordinal Logistic Regression (GWOLR). Data yang digunakan merupakan data sekunder cross-section tahun 2024 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Variabel respon berupa IKG yang diklasifikasikan menjadi empat kategori ordinal dengan 14 variabel prediktor. Pengujian efek spasial menunjukkan tidak terdapat autokorelasi spasial, tetapi terdapat heterogenitas spasial sehingga pendekatan GWOLR dapat digunakan untuk mengidentifikasi variasi parameter lokal. Hasil pemodelan OLR menunjukkan bahwa persentase perempuan usia 15–49 tahun yang melahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan (X?), persentase sumbangan pendapatan perempuan (X?), dan persentase perempuan yang mengakses internet (X??) berpengaruh signifikan terhadap IKG, dengan nilai Akaike Information Criterion (AIC) sebesar 58,36 dan Apparent Error Rate (APER) sebesar 21,05%. Model GWOLR dengan fungsi pembobot Adaptive Bisquare Kernel dan bandwidth optimum sebesar 30 menghasilkan nilai AIC sebesar 71,40 dan APER sebesar 28,95%. Hasil pengujian parameter lokal menunjukkan bahwa X? berpengaruh signifikan pada tujuh provinsi, yaitu Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara, sedangkan X?, persentase perempuan sebagai tenaga profesional (X??), dan X?? tidak menunjukkan pengaruh signifikan pada seluruh provinsi. Berdasarkan nilai AIC dan APER yang lebih rendah, model OLR memberikan kinerja yang lebih baik dibandingkan model GWOLR dalam memodelkan IKG di Indonesia.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI