DIGITAL LIBRARY



JUDUL:ETNOLINGUISTIK ISTILAH PRODUKSI BATU BATA DI DESA PEJAMBUAN KECAMATAN SUNGAI TABUK
PENGARANG:RINI RAHMAWATI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-09-22


Rini Rahmawati. 2026. Etnolinguistik Istilah Produksi Batu Bata di Desa Pejambuan Kecamatan Sungai Tabuk. Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin. Pembimbing: Prof. Dr. H. Jumadi, M.Pd.

 

Kata Kunci: etnolinguistik, istilah, produksi batu bata, bahasa Banjar, makna konseptual.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna istilah produksi batu bata di Desa Pejambuan, Kecamatan Sungai Tabuk, serta menginterpretasikan gambaran etnolinguistik istilah-istilah tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data primer berupa tuturan lisan pengrajin batu bata aktif yang diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan Focus Group Discussion (FGD). Analisis dilakukan secara bertahap melalui pendekatan morfologi untuk mengkaji bentuk istilah, pendekatan semantik Chaer (2009) dan Leech (1981) untuk mengkaji makna leksikal dan makna konseptual, serta kerangka etnolinguistik Sapir-Whorf, Underhill (2012), dan Sibarani (2004) untuk menginterpretasikan gambaran etnolinguistiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 62 istilah produksi batu bata berbahasa Banjar yang terbagi ke dalam empat kategori bentuk morfologis, yaitu 25 kata dasar, 14 kata turunan, 17 frasa, dan 6 reduplikasi, tersebar pada tiga tahap produksi yaitu praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Dari sisi makna konseptual ditemukan tiga pola dominan, yaitu perluasan makna seperti pada istilah kolotok yang berkembang menjadi satuan kapasitas produksi, polisemi kontekstual seperti pada istilah mangarat yang memiliki makna berbeda pada dua konteks, serta kosakata sensoris seperti sadang, hampul, baal, dan guwal-guwal yang mengodekan pengalaman taktil dan visual menjadi pengetahuan teknis yang diwariskan secara lisan tanpa penggunaan instrumen pengukuran modern. Dari perspektif etnolinguistik, istilah-istilah tersebut merepresentasikan enam dimensi pandangan dunia (worldview) komunitas pengrajin, yaitu struktur sosial berbasis gender yang terkodekan melalui istilah tunggal batampa, relasi ekologis dengan sungai sebagai infrastruktur berpikir yang membentuk hampir seluruh istilah praproduksi, identitas dan batas komunitas yang tercermin pada pasangan istilah sundak dan linggis, sistem kepercayaan yang terkodekan dalam istilah mahanyari, tapung tawar, dan tatungkal, bahasa ritual sebagai penjaga keselamatan komunitas yang tercermin pada istilah kapuhunan dan struktur mantra bapadah, serta metafora konseptual pembakaran bata adalah memasak yang tercermin secara sistematis pada istilah dapur, masak, mantah, kukus, dan guwal-guwal. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa bahasa Banjar komunitas pengrajin batu bata Sungai Tabuk menyimpan sistem pengetahuan lokal yang kompleks dan perlu didokumentasikan sebagai upaya pelestarian kearifan lokal.

 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI