DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | KEBIASAAN BAMARIAMAN KARBET MASYARAKAT DESA MELAYU KECAMATAN MARTAPURA TIMUR TAHUN 1970-2017 | |
| PENGARANG | : | Abdul Khobir | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2019-09-12 |
ABSTRAK
Abdul Khobir, 2019.Kebiasaan Bamariaman KarbetMasyarakat Desa Melayu Kecamatan Martapura Timur tahun 1970-2017. Skripsi Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Ilmu Pengerahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat.
Pembimbing I Dr. Bambang Subiyakto, M. Hum. Pembimbing II Dr. Syaharuddin, S.Pd, M.A.
Kata Kunci : kebiasaan, meriam karbit, pandangan masyarakat.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan perkembangan kebiasaan Meriam Karbit di Desa Melayu Kecamatan Martapura Timur 1970-2017, dan untuk mendiskripsikan pandangan masyarakat khususnya pada Desa Melayu dan umumnya pada masyarakat Martapura Timur terhadap Meriam Karbit.
Penelitian ini menggunakan metode sejarah, yang diawali dengan heuristik menghimpun data primer dan sekunder, seperti 1. Wawancara 2. Arsip-arsip milik instansi pemerintah 3. Foto-foto. Kemudian dikritik, dianalisis dan ditafsirkan untuk kemudian disusun dalam bentuk tulisan.
Hasil penelitian ini adalahkebiasaan bamariaman karbet merupakan kebiasaan yang turun-temurun di Desa Melayu sejak tahun 1950-an. Kebiasaan bamariaman karbet dilaksanakan di desa-desa bantaran sungai Martapura, yakni desa Melayu, desa Pekauman dan desa Keramat, bamariaman dilakukan pada siang dan malam Idul Fitri. Meriam karbit yang ada di Martapura pertama kali dibuat oleh Alm. K.H Salim Ma’ruf dia adalah masyarakat Desa Pekauman, meriam karbit ia bawa ilmunya langsung dari Pontianak. Meriam karbit awalnya digunakan serta dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai penanda waktu masuknya adzan Magrib sekaligus waktu berbuka puasa, serta sebagai penanda masuknya waktu imsaq. Karena ditahun itu belum adanya pengeras suara sebagai pengingat waktu imsaq dan waktu berbuka. Sepanjang perjalanannya, yakni dari tahun 1950-2017 meriam karbit yang ada di desa Melayu berbagai jenis diantaranya adalah bambu, pohon enau, pipa besi, dan kaleng. Dalam pembuatan meriam karbit, diperlukan peralatan-peralatan untuk membuat meriam baik itu peralatan tradisional maupun peralatan yang bersifat praktis. Pelaksanaan tradisi meriam karbit tidak selalu mulus, dikarenakan adanya kendala-kendala diantaranya adalah bahan baku meriam karbit, pelarangan dari pihak tokoh agama, serta dari pihak pemerintah. Dilihat dari sisi agama kebiasaan bamariaman memang tidak baik, tetapi jika dilihat dari kebudayaan maka baik untuk dilestarikan. bamariaman dianggap tidak baik karena lebih banyak mudorat daripada manfaat, maka dari situlah pemerintah melarang serta menutup tradisi meriam karbit dengan alasan lebih banyak mudorat daripada manfaat, kebijakan pemerintah diapresiasi oleh masyarakat dengan bukti tidak melaksanakan tradisi meriam karbit.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI