DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | EVALUASI CAPAIAN LAYANAN AIR MINUM DI KABUPATEN TANAH BUMBU KALIMANTAN SELATAN | |
| PENGARANG | : | Dwi Maulidya Paramitha | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2024-07-16 |
Target capaian layanan air minum menurut RPJMN tahun 2020-2024 yakni air minum 100% layak dan 15% aman. Kabupaten Tanah Bumbu memiliki capaian eksisting akses air minum pada tahun 2022 sebesar 82,32% dan masih 17,68% unit rumah yang belum terlayani. Air minum yang dikonsumsi harus memenuhi syarat kualitas air minum, kuantitas yang terpenuhi, serta tersedia terus-menerus selama 24 jam/hari atau selalu tersedia saat diperlukan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi layanan air minum yang berada di Kabupaten Tanah Bumbu. Penelitian ini mengambil sampel dari IKK Kusan Hulu yang merupakan IKK dengan jarak terjauh ke ibukota dan BNA Batulicin yang merupakan cabang SPAM paling banyak melayani masyarakat. Penelitian dilakukan menggunakan kuesioner dengan metode likert dan SWOT. Berdasarkan hasil diketahui bahwa kondisi kualitas PTAM Bersujud yang didistribusikan kepada pelanggan saat ini terdapat 2 parameter yang tidak memenuhi persyaratan Permenkes No. 492/Menkes/PER/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum yakni parameter E-Coli dan Total Coliform. Aspek Kuantitas pemenuhan layanan air minum lebih diutamakan pada kawasan perkotaan, untuk kawasan perdesaan operator (PTAM Tanah Bumbu) dari kapasitas produksi belum mampu menutupi kebutuhan seluruh masyarakat Kabupaten Tanah Bumbu baik perkotaan maupun perdesaan. Aspek kontinuitas, saat ini PTAM Bersujud belum mampu mengalirkan air kepada seluruh pelanggang secara terus-menerus selama 24 jam. Pada pelanggan khususnya yang berada di daerah ibukota, air dapat mengalir selama 24 jam, sedangkan daerah perdesaan lama waktu pengaliran rata-rata 18-22 jam/hari. Hal ini dikarenakan sistem pengaliran air yang dilakukan menggunakan pompa (biaya operasional yang tidak sesuai), disamping itu juga kebocoran yang masih cukup tinggi saat pendistribusian >25%. Aspek keterjangkauan yaitu beberapa warga masih keberatan dengan retribusi yang dianggarkan. Disisi lain PTAM masih dibebani dengan biaya produksi yang tinggi, sehingga harga jual masih dibawah harga produksi. Rekomendasi yang didapatkan menggunakan metode SWOT yaitu perlunya SDM yang sesuai dengan yang dibidangi serta proses tahapan dari unit air baku hingga sambungan rumah benar-benar dilakukan sesuai SOP.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI