DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | ANALISIS HORMON KORTISOL SEBAGAI INDIKATOR STRES BEKANTAN (Nasalis larvatus) PADA MUSIM KAWIN DI PULAU CURIAK | |
| PENGARANG | : | SAMIRAH IZZAH BAHAIYAH | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2025-07-09 |
Nasalis larvatus (bekantan) merupakan primata endemik Kalimantan yang saat ini berada dalam status terancam punah akibat degradasi habitat serta tekanan dari aktivitas antropogenik, termasuk ekowisata berbasis sungai. Pulau Curiak, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, sebagai habitat alami yang menjadi lokasi konservasi in-situ, belum pernah dijadikan objek studi untuk menilai respons fisiologis stres bekantan di musim kawin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar metabolit hormon kortisol dalam feses sebagai indikator stres fisiologis bekantan selama musim kawin, serta mengidentifikasi potensi perbedaan kadar antara individu jantan dan betina. Pengumpulan sampel dilakukan secara non-invasif selama dua minggu di bulan Juli, dengan total 29 sampel feses yang terdiri atas 16 individu jantan dan 13 betina. Analisis hormon dilakukan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan data yang dihasilkan dianalisis secara statistik parametrik melalui uji t independent sample untuk melihat perbedaan kadar antar individu. Hasil analisis kadar metabolit hormon kortisol pada populasi bekantan (Nasalis larvatus) di Stasiun Riset Pulau Curiak selama musim kawin menunjukkan kisaran antara 2986,34 ng/gr hingga 4753,55 ng/gr. Rata-rata kadar kortisol individu jantan tercatat sebesar 4276,77 ng/gr feses, sedangkan pada individu betina sebesar 3537,03 ng/gr feses. Selisih nilai tersebut mencerminkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok pada musim kawin.
Kata kunci: ELISA, Kortisol, Musim kawin, Nasalis larvatus, Stres fisiologis
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI