DIGITAL LIBRARY



JUDUL:ESTIMASI SUSUT PANGAN (FOOD LOSS) DAN SISA PANGAN (FOOD WASTE) UNTUK KETAHANAN PANGAN DI KALIMANTAN SELATAN
PENGARANG:JAMALUDDIN
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-07-10


Penelitian ini mengkaji permasalahan susut dan sisa pangan di Kalimantan Selatan dalam konteks ketahanan pangan regional. Latar belakang penelitian menunjukkan bahwa Indonesia mengalami timbulan food loss dan food waste yang tinggi mencapai 23-48 juta ton per tahun atau setara 115-184 kg per kapita per tahun. Kalimantan Selatan sebagai salah satu sentra produksi pangan (terutama padi) di luar Pulau Jawa, menghadapi penurunan produksi komoditas pangan strategis dengan beras turun 22,93%, jagung 85,77%, dan kedelai 97,26% dalam periode 2019-2024, sementara menghadapi tantangan geografis berupa dataran rendah dan rawa yang rentan banjir.

Penelitian ini bertujuan menganalisis besaran food loss dan food waste pada setiap tahapan rantai pangan, mengukur daya dukungnya, dan menghitung kerugian ekonomi yang ditimbulkan. Metodologi yang digunakan  adalah pendekatan kuantitatif dengan kerangka Neraca Bahan Makanan (NBM) yang mengadaptasi estimasi persentase susut Food Agricultural Organization (FAO) untuk Asia Tenggara. Penelitian mencakup ini delapan komoditas strategis: beras, ubi jalar, ubi kayu, jeruk, pisang, tomat, cabai besar, dan cabai rawit dengan data sekunder dari BPS dan instansi terkait tahun 2024.

Hasil penelitian menunjukkan total food loss dan food waste mencapai 268.699 ton atau 49,7% dari total produksi. Distribusi terbesar terjadi pada tahap hulu dengan produksi (31,7%), pascapanen (28,2%), dan pemrosesan (23,9%), sementara distribusi dan konsumsi hanya 16,3%. Beras menunjukkan efisiensi terbaik dengan susut 17,5% (kategori efisien), umbi-umbian (ubi jalar dan ubi kayu) berada pada kategori sedang (38,8-42,2%), sedangkan hortikultura (jeruk, pisang, tomat, cabai besar, dan cabai rawit) mencapai kategori kritis dengan susut hampir 60%.

Analisis daya dukung mengungkap potensi signifikan dengan jeruk mampu memenuhi kebutuhan selama 28,69 tahun, cabai besar 2,55 tahun, dan pisang 1,94 tahun. Kerugian ekonomi total mencapai Rp 4,26 triliun, dengan beras menyumbang 39,2% (Rp 1,67 triliun) meskipun memiliki efisiensi terbaik. Konsentrasi kerugian pada tahap hulu mencapai 83,8% dari total kerugian, mengindikasikan masalah struktural infrastruktur pascapanen.

Penelitian menyimpulkan bahwa sistem pangan Kalimantan Selatan mengalami inefisiensi sistemik terutama pada komoditas hortikultura. Rekomendasi meliputi prioritas pembangunan fasilitas penyimpanan dan pengeringan di sentra produksi, program pelatihan penanganan pascapanen bagi petani, serta penelitian lanjutan untuk solusi teknis spesifik setiap komoditas.

 

 

Kata Kunci: food loss, food waste, ketahanan pangan, Kalimantan Selatan, neraca bahan makanan (NBM)

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI