DIGITAL LIBRARY



JUDUL:PRODUKTIVITAS TAMBAK PASCA KEGIATAN REHABILITASI MANGROVE DENGAN POLA TANAM SILVOFISHERY (STUDI KASUS: KTH LEMBU LESTARI DI DESA SALO PALAI, KECAMATAN MUARA BADAK, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR)
PENGARANG:WILDA HATIPAH YASMINE
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-07-12


Degradasi kawasan mangrove akibat konversi menjadi tambak intensif telah menurunkan kualitas lingkungan perairan dan produktivitas budidaya perikanan. Rehabilitasi mangrove melalui pendekatan silvofishery menjadi alternatif pengelolaan tambak yang berkelanjutan dengan memadukan konservasi vegetasi mangrove dan aktivitas budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lingkungan tambak pasca rehabilitasi mangrove, membandingkan produktivitas antara tambak silvofishery dan non-silvofishery, serta mengkaji hubungan keberadaan mangrove dengan produktivitas tambak. Penelitian dilakukan di KTH Lembu Lestari, Desa Salo Palai, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Plot pengamatan dibuat pada 5 tambak silvofishery dan 5 tambak non-silvofishery.  Analisis keberhasilan rehabilitasi mangrove menggunakan standar keberhasillan pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.105/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 (persen hidup tanaman >= 70%). Status mutu kualitas air tambak dianalisis dengan metode STORET.Persentase keberhasilan rehabilitasi mangrove telah memenuhi standar keberhasilan dengan capaian persen hidup tanaman 74,06%. Rata-rata riap diameter tahunan mangrove adalah 0,90 cm/tahun, sedangkan riap tinggi mencapai 160,58 cm/tahun. Status mutu kualitas air tambak berdasarkan hasil penilaian dari aspek fisika, kimia dan biologi pada tambak silvofishery berada dalam kategori baik, sedangkan tambak non-silvofishery terindikasi terjadi pencemaran ringan. Tambak silvofishery dari segi produktivitas lebih unggul dibandingkan dengan tambak non-silvofishery. Rata-rata biaya operasional tambak silvofishery lebih rendah dibandingkan dengan tambak non-silvofishery, dimana biaya operasional tambak silvofishery sebesar Rp.6.820.911/ha/tahun dan tambak non-silvofishery sebesar Rp.7.096.888/ha/tahun. Penerimaan tambak silfovishery lebih tinggi dari tambak non-silvofishery, dimana tambak silvofihsery memberikan penerimaan sebesar Rp.231.372.016/ha/tahun dan tambak non-silvofishery sebesar Rp.185.693.521/ha/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tambak silvofishery lebih unggul dari aspek biaya operasional dan penerimaan yang di dapatkan. analisis korelasi menunjukkan hubungan positif lemah antara keberadaan mangrove dan produktivitas tambak dengan nilai pengaruh 20%. Fenomena ini diduga berkaitan dengan umur tanaman mangrove yang masih muda dan persentase tutupan yang belum optimal. Hasil penelitian ini menjadi indikasi keunggulan penerapan silvofishery pada kegiatan rehabilitasi mangrove.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI