DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Penokohan Disabilitas dalam Novel Hardest Goodbye Karya Sahlil Ge
PENGARANG:DEWITA HERZALEHA
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-08-05


Karya sastra tidak hanya mencerminkan pemahaman tentang disabilitas, tetapi juga berperan dalam mendorong perubahan tersebut dengan meningkatkan kesadaran dan empati pembaca terhadap isu-isu yang dihadapi oleh individu disabilitas. Disabilitas dalam karya sastra menjadi topik yang relevan dalam meningkatkan kesadaran sosial di masyarakat akan sebuah perlakuan terhadap individu penyandang disabilitas di tengah lingkup sosial. Bacaan karya sastra memiliki tokoh dalam sebuah cerita. Tokoh yang memerankan lakon hingga memengaruhi jalan sebuah alur cerita. Penggambaran tokoh mencakup karakter, ciri fisik, bahasa, konflik dan hubungan antar tokoh. Mengenai hal tersebut, tokoh berperan penting untuk sebuah cerita novel. Peneliti menganalisis penokohan disabilitas yang digambarkan dalam novel Hardest Goodbye karya Sahlil Ge. Penelitian ini berjudul “Penokohan Disabilitas dalam Novel Hardest Goodbye Karya Sahlil Ge”.  Peneliti mengkaji penokohan disabilitas dalam novel tersebut menggunakan teori konsep Nurgiyantoro yang membagi penokohan dalam dua teknik yaitu teknik ekspositori dan teknik dramatik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penokohan disabilitas dan makna dari penokohan dalam novel tersebut. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah novel Hardest Goodbye karya Sahlil Ge. Analisis data dalam penelitian ini dengan teknik analisis isi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1)Penokohan disabilitas dalam novel hanya digambarkan secara dramatik yang terdiri atas teknik cakapan, teknik tingkah laku, teknik pikiran dan perasaan, teknik arus kesadaran, teknik reaksi tokoh, teknik reaksi tokoh lain, teknik pelukisan latar, dan teknik pelukisan fisik yang ditemukan 49 data penokohan. (2) Makna pada penokohan disabilitas hanya digambarkan secara dramatik yang membuat informasi-informasi tentang karakter disabilitas harus dipersepsikan sendiri oleh pembaca melalui tindakan, cakapan, pikiran, arus sadarnya, reaksinya latar, dan fisiknya. Keterbatasan penggunaan sudut pandang penokohan ini juga membuat penokohan disabilitas tidak objektif.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI