DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Refleksi Sejarah Kabupaten Kapuas dalam Sastra Lisan “Karungut” | |
| PENGARANG | : | EDELWEIS GARDENA EDDRA NASUTION | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2025-08-08 |
Nasution, Edelweis Gardena Eddra. 2025. Refleksi Sejarah Kabupaten Kapuas dalam Sastra Lisan “Karungut”. Tesis. Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Lambung Mangkurat. Pembimbing:(1) Dr. Moh. Fatah Yasin, M.Pd.; (2) Dr. Sabhan, M.Pd.
Kata Kunci:karungut, sastra lisan, sejarah lokal, Kapuas, memori kolektif, historiografi
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai sejarah Kabupaten Kapuas direfleksikan dalam sastra lisan karungut serta memahami peran karungut dalam pelestarian sejarah dan budaya lokal masyarakat Kapuas. Karungut merupakan bentuk sastra lisan Dayak Ngaju yang tidak hanya menyampaikan pesan moral dan hiburan, tetapi juga mengandung narasi sejarah lokal yang hidup dalam memori kolektif masyarakat. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kerangka teori historiografi serta konsep memori kolektif Maurice Halbwachs, penelitian ini menggali empat karungut yang merekam peristiwa penting, tokoh legendaris, dan perubahan sosial di Kabupaten Kapuas.
Hasil analisis menunjukkan bahwa karungut merefleksikan sejarah lokal melalui syair-syair yang menggambarkan proses pembukaan wilayah (seperti Ujung Tanjung dan Ujung Murung), perjuangan melawan penjajah, serta perkembangan wilayah menjadi pusat pemerintahan. Tokoh-tokoh seperti Nyai Undang dan Patih Rumbih ditampilkan sebagai simbol perjuangan dan pelindung masyarakat. Selain itu, karungut juga merekam dinamika sosial, pembangunan infrastruktur, dan harmoni antar suku serta agama. Karungut berfungsi sebagai media pewarisan nilai budaya, pelestarian bahasa daerah, serta penguat identitas kultural masyarakat Kapuas. Dalam praktik sosial, karungut dilantunkan dalam acara adat, festival budaya, dan pendidikan moral, menjadikannya sebagai arsip hidup yang terus diperbarui dan diwariskan antargenerasi.
Penelitian ini menegaskan bahwa sastra lisan karungut merefleksikan sejarah Kapuas melalui narasi budaya yang diwariskan lintas generasi dan membentuk kesadaran sejarah masyarakat. Karungut tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga sarana pendidikan nilai, pelestarian bahasa Dayak Ngaju, dan pewarisan identitas budaya. Karungut sebagai bentuk arsip hidup (living archive) berperan dalam menjaga kesinambungan sejarah lokal. Sebaiknya pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan para peneliti turut berperan aktif dalam upaya pelestarian, pemanfaatan, dan pengembangan karungut sebagai warisan budaya bernilai historis melalui dokumentasi, pembelajaran, serta kajian lintas disiplin.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI