DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Hegemoni Budaya dalam Novel
PENGARANG:RAHMAH
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2025-08-13


Novel Lontara karya Windy Joana secara eksplisit mengangkat isu hegemoni budaya yang relevan dengan konteks sosial masa kini. Budaya Bugis-Makassar dalam novel tidak hanya berfungsi sebagai latar cerita, tetapi juga sebagai alat kekuasaan untuk membentuk kesadaran kolektif. Representasi norma dan nilai menggambarkan kekuasaan dijalankan dan diwariskan, baik secara terbuka maupun tersembunyi. Latar belakang penelitian ini dilakukan karena isu hegemoni budaya dan relasi kuasa dalam novel Lontara karya Windy Joana belum pernah dianalisis secara khusus dengan pendekatan kritis yang menyoroti peran budaya sebagai alat dominasi dalam struktur naratifnya. Penelitian ini berjudul “Hegemoni Budaya dalam Novel Lontara karya Windy Joana”. Peneliti mengkaji hegemoni budaya menggunakan konsep  hegemoni dari Antonio Gramsci, serta mengkaji relasi kuasa menggunakan teori dari Antonio Gramsci serta teori Michel Foucault sebagai pelengkap. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan budaya Bugis-Makassar yang direpresentasikan sebagai alat hegemoni serta relasi kuasa yang digambarkan dalam novel Lontara karya Windy Joana. Jenis penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah novel Lontara karya Windy Joana. Analisis data dalam penelitian ini dengan teknik analisis isi model Krippendorff.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) budaya Bugis-Makassar direpresentasikan sebagai alat hegemoni melalui kepercayaan terhadap To Manurung sebagai utusan Dewata, nilai-nilai kehormatan seperti siri’ dan lempu’, praktik musyawarah (tudang sipulung), serta warisan budaya seperti aksara lontara dan naskah Surek La Galigo. (2) Relasi kuasa digambarkan secara dinamis dan kompleks, mencerminkan berbagai bentuk interaksi kekuasaan seperti dominasi, konsensus, dan resistensi. Pada masa kerajaan, kekuasaan tidak hanya dijalankan oleh Raja secara langsung, tetapi juga melalui aktor-aktor di sekitarnya yang memanipulasi informasi dan membentuk pengaruh ideologis. To Manurung hadir sebagai intelektual organik yang berupaya memperbaiki tatanan dari dalam sistem. Sementara itu, di masa kini, relasi kuasa ditampilkan secara lebih halus melalui media dan penyebaran nilai budaya yang diterima secara populer, menunjukkan kesinambungan strategi hegemonik lintas zaman.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI