DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | KONSTELASI AGEN: DOMINASI STRUKTURAL DIBALIK KEGAGALAN PARTISIPASI MASYARAKAT PADA PENGEMBANGAN WISATA PASAR BUDAYA RACAH MAMPULANG | |
| PENGARANG | : | SYIFA KHAIRUNNISA | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-01-14 |
Pariwisata berbasis budaya menjadi salah satu strategi pembangunan desa yang mengedepankan nilai-nilai lokal dan partisipasi masyarakat. Wisata Pasar Budaya Racah Mampulang di Desa Balida, Kabupaten Balangan, hadir sebagai bentuk inisiatif lokal dalam mengintegrasikan seni, budaya, dan ekonomi masyarakat. Wisata ini diharapkan mampu menjadi motor penggerak pembangunan desa melalui partisipasi dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk dominasi para elite kuasa dalam pengelolaan wisata, serta menganalisis bagaimana dominasi tersebut berkontribusi terhadap gagalnya partisipasi masyarakat. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teori strukturasi Anthony Giddens untuk melihat bagaimana struktur sosial dan tindakan para agen membentuk dan mereproduksi relasi kuasa dalam pengembangan wisata.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dominasi struktural oleh agen yang terlibat seperti elite lokal dan mitra perusahaan sehingga menciptakan ketimpangan relasi kuasa yang membatasi ruang partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat hanya terbatas pada tahap pelaksanaan teknis, tanpa akses terhadap proses perencanaan, pengambilan keputusan, maupun pengelolaan strategis wisata. Minimnya ruang partisipasi ini menyebabkan warga merasa wisata bukan bagian dari kepemilikan kolektif, melainkan proyek yang dikuasai oleh elite lokal dan pihak eksternal. Dampaknya, semangat partisipasi masyarakat semakin melemah, rasa tanggung jawab terhadap keberlanjutan wisata menurun, dan pengelolaan wisata cenderung stagnan meskipun infrastruktur terus dibangun. Temuan ini menegaskan bahwa adanya elite yang mendominasi pada pengembangan wisata yang berakibat pada mereproduksi ketergantungan masyarakat terhadap pihak dominan. Penelitian ini merekomendasikan model pengelolaan wisata yang inklusif, kolaboratif, dan berbasis pemberdayaan masyarakat agar pengembangan wisata berjalan secara berkelanjutan.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI