DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | PENGARUH TINGKAT KEBISINGAN TERHADAP TINGKAT KESEHATAN PENDENGARAN KARYAWAN DI PT. MITRA BARITO DESA PARING LAHUNG KECAMATAN MONTALLAT KABUPATEN BARITO UTARA KALIMANTAN TENGAH | |
| PENGARANG | : | SRI RAHMAWATI | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-01-22 |
Sri Rahmawati. 2025. Pengaruh Tingkat Kebisingan Terhadap Tingkat Kesehatan Pendengaran Karyawan Di PT. Mitra Barito Desa Paring Lahung Kecamatan Montallat Kabupaten Barito Utara Kalimantan Tengah. Pembimbing Prof. Dr. Ir. Idiannor Mahyudin, M.Si.; Prof. Dr. Ir. Danang Biyatmoko, M.Si.; Dr. Ir. Rukmini, M.P.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan hal yang penting untuk diwujudkan di lingkungan kerja. K3 berkaitan dengan upaya untuk mencegah dan mengurangi risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, sehingga dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman. Pada PT. Mitra Barito kegiatan pertambangan ini secara langsung maupun tidak langsung dapat memberi resiko kepada manusia maupun lingkungan. Salah satu dampak dari kegiatan pertambangan adalah kebisingan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sumber kebisingan dan menentukan jenis kebisingan yang ada di PT. Mitra Barito. Mengukur tingkat kebisingan yang terjadi pada lingkungan kerja PT. Mitra Barito dan membandingkan hasil pengukuran tingkat kebisingan dengan standar kepmenkes No.51 Tahun 1999. Mengidentifikasi pengaruh kebisingan yang terjadi di PT. Mitra Barito terhadap kesehatan karyawan. Mengevaluasi pengendalian kebisingan yang diterapkan oleh PT. Mitra Barito.
Penelitian ini berlangsung pada bulan Agustus-Desember 2025. Lokasi penelitian dilakukan PT. Mitra Barito yang berlokasi di Desa Paring Lahung, Kecamatan Montallat, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Peralatan yang digunakan meliputi alat Sound level meter (SLM), Safety glasses atau kacamata pelindung, Earmuff (Penutup telinga), Sarung tangan pelindung, Form lembar pencatatan data dan Peta lokasi atau layout area kerja kebisingan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber kebisingan terdapat pada area workshop, jetty, kantor dan ROM 17 terdapat pada mesin genset, mesin conveyor, lalu lintas alat berat dan mesin crusher. Jenis kebisingan yang ada pada mesin genset, mesin conveyor dan mesin crusher adalah Steady-state noise. Jenis lalu lintas alat berat termasuk dalam kebisingan terputus-putus. Berdasarkan hasil pengukuran tingkat kebisingan di workshop (101,3 dB) ,jetty (88,1 dB), kantor (lalu linta unit) (85,1 dB) dan ROM 17 (92,1) melebihi NAB (85 dB). Dampak kebisingan berupa tinnitus, pendengaran terasa menurun, kesulitan mendengar percakapan, telinga terasa penuh atau tersumbat, nyeri atau rasa tidak nyaman pada telinga. Koefisien (a) sebesar -0,358 artinya jika tingkat kebisingan (X) nilainya 0 maka penurunan kualitas kesehatan karyawan (Y) nilainya negatir yaitu sebesar -0,358. Koefisien (b) tingkat kebisingan (X) sebesar 2,187 artinya jika tingkat kebisingan mengalami kenaikan sebesar 1 dB maka penurunan kualitas kesehatan karyawan (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 2,187. Koefisien (b) bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara tingkat kebisingan dengan penurunan kualitas kesehatan karyawan, sehingga semakin tinggi kebisingan maka semakin meningkat pula tingkat penurunan kualitas kesehatan karyawan. Pengendalian kebisingan yang dilakukan di PT. Mitra Barito untuk area workshop, jetty, kantor dan ROM 17. Untuk karyawan sudah menggunakan APD lengkap serta ada nya rotasi kerja pada area kebisingan yang tinggi. Waktu kerja yang ditetapkan adalah 4 jam/hari yang dilakukan secara bergantian oleh karyawan.
Katakunci: Kebisingan, Sound level meter (SLM), Kabupaten Barito Utara
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI