DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | KOLABORASI PENGEMBANGAN WISATA KAMPUNG NELAYAN KOTABARU KALIMANTAN SELATAN | |
| PENGARANG | : | ACHMAD AKBAR AL HUSIN | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-01-23 |
ABSTRAK
Achmad Akbar Al Husin, 2110413310004, 2025. “Kolaborasi
pengembangan Wisata Kampung Nelayan Kotabaru Kalimantan Selatan” Di
bawah bimbingan Farah Qubayla.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi ekonomi masyarakat nelayan di
Desa Sarang Tiung, Kabupaten Kotabaru, yang rentan terhadap perubahan musim
(paceklik). Inisiatif pengembangan Wisata Kampung Nelayan muncul sebagai
strategi adaptasi ekonomi yang melibatkan berbagai aktor. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis proses kolaborasi menggunakan teori Collaborative
Governance Regime (Emerson, Nabatchi, & Balogh, 2012) dan menganalisis
dampak ekonominya menggunakan teori Dampak Ekonomi (John Tribe, 2005).
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan
dokumentasi. Informan kunci meliputi Dinas Pariwisata (Disparpora), Dinas
Lingkungan Hidup (DLH), PT Arutmin Indonesia (Sektor Swasta), BUMDes
Sarang Tiung, Kelompok Pengelola Wisata, dan Pokdarwis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pendorong kolaborasi (Drivers)
dipicu oleh empat faktor utama: kepemimpinan lokal non-pemerintah yang
proaktif, tekanan ekonomi (insentif konsekuensial), kesadaran saling
ketergantungan, dan ketidakpastian awal. (2) Dinamika kolaborasi (Dynamics)
berjalan melalui komunikasi intensif dan pembagian peran yang jelas, di mana
BUMDes berperan sebagai pembina strategis dan Kelompok Pengelola sebagai
operator harian. (3) Tindakan kolaboratif (Actions) terwujud dalam dukungan
infrastruktur dari PT Arutmin, fasilitas dan pembinaan dari Disparpora/DLH, serta
pengelolaan mandiri oleh masyarakat. (4) Adaptasi (Adaptation) terlihat pada
regenerasi kelembagaan dari Pokdarwis lama ke Kelompok Pengelola baru untuk
menjaga keberlanjutan operasional. (5) Secara ekonomi, kolaborasi ini
menghasilkan Dampak Langsung berupa pertumbuhan unit usaha (warung) yang
signifikan, Dampak Tidak Langsung pada rantai pasok nelayan lokal, dan Dampak
Terserap di mana pendapatan wisata menjadi penopang utama ekonomi keluarga
saat musim paceklik.
Berdasarkan temua tersebut, penelitian ini menyarankan tiga aspek
penguatan. Pertama, pada aspek tata kelola, diperlukan pembuatan sistem tiket
resmi dan pembukuan transparan. Kedua, pada aspek lingkungan, Dinas lingkungan
hidup diharapkan mengaktifkan kembali pendampingan pengelolan sampah di
kampung nelayan, ketiga pihak swasta PT Arutmin perlu menyiapkan strategi
jangka panjang, agar masyarakat siap mandiri jika program CSR berakhir.
Kata Kunci: Collaborative Governance, Pariwisata Berkelanjutan, Dampak
Ekonomi, Kampung Nelayan, Kotabaru.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI