DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | CULTURE SHOCK DALAM ADAPTASI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA MAHASISWA PAPUA DENGAN MAHASISWA LAIN DI KALIMANTAN SELATAN (Studi Deskriptif Pada Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat) | |
| PENGARANG | : | CORES MENASE ERARI | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-01-28 |
CORES MENASE ERARI, NIM 1910414710002 Tahun 2025, mengangkat topik “Culture Shock Dalam Adaptasi Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Papua Dengan Mahasiswa Lain Di Kalimantan Selatan (Studi Deskriptif Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat).” Di Bawah Bimbingan Bachruddin Ali Akhmad
Penyesuaian terhadap lingkungan baru dapat memicu gegar budaya pada individu yang terlibat dalam komunikasi antarbudaya dari latar belakang kultural yang berbeda. Contoh yang jelas terlihat pada mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan di Kalimantan Selatan.
Studi ini bertujuan menguraikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa Papua di Kalimantan Selatan, baik dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru maupun dalam mengatasi gegar budaya yang mereka alami. Melalu lima tahapan menurut Young Y. Kim, yaitu Fase Perencanaan, Fase Honeymoon (Fase Bulan Madu), Fase Frustasion (Fase Frustrasi), Fase Readjustmen (Fase Penyesuaian kembali), Fase Resulation (Fase Resolusi)
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan melibatkan Enam informan. Data dikumpulkan melalui berbagai sumber, termasuk data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tiga langkah utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi metode.
Temuan penelitian menegaskan bahwa mahasiswa Papua mengalami gegar budaya di Kalimantan Selatan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan lingkungan yang signifikan. Perbedaan tersebut meliputi kesulitan memahami bahasa setempat, ketidakcocokan dengan cita rasa makanan, dan perbedaan gaya pergaulan. Kesulitan-kesulitan ini secara khusus terjadi dalam Fase Frustasion (Fase Frustrasi)
Meskipun menghadapi tantangan, para informan lebih memilih untuk bertahan dan menghadapi kondisi lingkungan baru ini. Kencenderungan ini mengindikasikan bahwa mereka berada dalam proses pergerakan menuju Fase Readjustment (Fase penyesuaian kembali) dan telah mencapai Fase Resulition (Fase Resolusi) bahkan beberapa menyatakan kenyamanan tinggal di Kalimantan Selatan dan berencana untuk tinggal serta mencari pekerjaan di sini setelah lulus.
Proses adaptasi ini tidak luput dari kendala, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Kendala internal mencakup sifat mahasiswa Papua yang cenderung pendiam dan tertutup, yang menghambat proses adaptasi mereka. Sementara itu, kesulitan eksternal utama adalah kesulitan dalam memahami bahasa lokal, yang menyebabkan mereka kesulitan menginterpretasikan perkataan orang lain.
Kata Kunci : Komunikasi Antarbudaya, Culture Shock, dan Adaptasi
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI