DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Analisis Determinan Produk Domestik Regional Bruto Sektor Pertanian Antar Wilayah di Kalimantan Selatan (Pendekatan Geographically Weighted Panel Regression)
PENGARANG:TRI NORARIFIN
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-02-03


Sektor pertanian merupakan pilar krusial dalam struktur ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan, namun kontribusinya menghadapi tantangan berupa disparitas antarwilayah dan tekanan dari sektor ekstraktif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis determinan PDRB sektor pertanian secara global melalui pendekatan regresi data panel, dan (2) Menganalisis variasi spasial pengaruh determinan tersebut di setiap kabupaten/kota menggunakan pendekatan Geographically Weighted Panel Regression (GWPR). Penelitian ini berpijak pada Hukum Pertama Geografi Tobler untuk membuktikan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik ekonomi yang unik dan saling berhubungan secara spasial. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari 13 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Selatan periode 2020-2024. Variabel dependen adalah PDRB Sektor Pertanian (Ln), sedangkan variabel independen meliputi Luas Panen Padi (X1), Luas Lahan Perkebunan (X2), Proporsi Tenaga Kerja Pertanian (X3), Belanja Modal Pemerintah (X4), dan Kontribusi Sektor Pertambangan (X5). Analisis dilakukan dalam dua tahap: Regresi Data Panel Global (untuk mendapatkan gambaran umum) dan GWPR dengan fungsi pembobot Adaptive Bisquare Kernel (untuk menangkap heterogenitas spasial). Kriteria signifikansi yang digunakan adalah alpha = 5%. Hasil uji menunjukkan bahwa Fixed Effect Model (FEM) dengan koreksi Driscoll-Kraay adalah model global terbaik (R2 = 53,32%). Faktor yang berpengaruh signifikan pada taraf 5% secara global adalah Luas Lahan Perkebunan (+), Belanja Modal (+), dan Kontribusi Pertambangan (-). Variabel Luas Panen Padi dan Tenaga Kerja tidak menunjukkan pengaruh signifikan pada taraf 5% secara global. Model GWPR terbukti lebih unggul dalam menjelaskan fenomena dengan R2 meningkat menjadi 70,42%. Ditemukan variasi pengaruh yang nyata di tingkat lokal. Luas Lahan Perkebunan menjadi pendorong utama di wilayah utara (Tabalong, Balangan, Hulu Sungai) dengan signifikansi tinggi. Belanja Modal konsisten positif di wilayah perkotaan (Banjarmasin, Banjarbaru). Sebaliknya, Kontribusi Pertambangan terbukti menekan sektor pertanian secara signifikan di Kabupaten Tanah Laut dan Tanah Bumbu. Pembahasan model lokal mengungkap adanya paradoks pada variabel Luas Panen Padi yang bernilai negatif signifikan di wilayah seperti Barito Kuala dan Tanah Laut, yang mengindikasikan fenomena diminishing marginal returns dan inefisiensi pengelolaan lahan pangan. pentingnya efek spasial dalam elastisitas produksi. Sektor perkebunan menunjukkan elastisitas positif yang sangat kuat di wilayah Hulu Sungai dan Utara, selaras dengan teori keunggulan komparatif. Sementara itu, signifikansi negatif sektor pertambangan di wilayah pesisir memberikan bukti empiris adanya Resource Curse di tingkat lokal, di mana dominasi tambang menghambat pertumbuhan sektor pertanian melalui kompetisi sumber daya. Belanja modal pemerintah terbukti menjadi instrumen counter-cyclical yang paling reliable di wilayah perkotaan dan pusat pertumbuhan baru seperti Banjarbaru.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI