DIGITAL LIBRARY



JUDUL:RESPON PERTUMBUHAN, HASIL, DAN KANDUNGAN FLAVONOID BAWANG MERAH TERHADAP DOSIS POC SABUT KELAPA DAN PENURUNAN DOSIS PUPUK ANORGANIK ANJURAN DI TANAH SULFAT MASAM
PENGARANG:ABDAH ATTAMIMI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-02-05


Abdah Attamimi. 2026. Respon Pertumbuhan, Hasil, dan Kandungan Flavonoid Bawang Merah terhadap Dosis POC Sabut Kelapa dan Penurunan Dosis Pupuk Anorganik Anjuran di Tanah Sulfat Masam. Dr. Dewi Erika Adriani, S.P.,M. P, P.hD. Prof. Dr. Ir. Hj. Raihani Wahdah, M.S.

 

Banjarbaru. Penelitian ini mengenai respon pertumbuhan, hasil dan kandungan flavonoid bawang merah terhadap dosis POC sabut kelapa dan penurunan dosis pupuk anorganik anjuran di tanah sulfat masam yang dilaksanakan pada bulan Januari-April 2025.  Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh interaksi POC sabut kelapa dengan berbagai komposisi penurunan pupuk kimia anjuran terhadap pertumbuhan, hasil, dan kandungan flavonoid tanaman bawang merah di tanah sulfat masam; menganalisis pengaruh masing-masing aplikasi POC sabut kelapa dan berbagai penurunan komposisi pupuk kimia anjuran terhadap pertumbuhan, hasil, dan kandungan flavonoid tanaman bawang merah di tanah sulfat masam;  menganalisis kombinasi terbaik antara POC sabut kelapa dan berbagai penurunan komposisi pupuk kimia anjuran terhadap pertumbuhan, hasil, dan kandungan flavonoid tanaman bawang merah di tanah sulfat masam. 

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor.  Faktor pertama adalah dosis POC sabut kelapa (K) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan yaitu: k0 = tanpa POC, k1= 200 ml per tanaman, k2= 400 ml per tanaman, k3= 600 ml per tanaman, dan k4= 800 ml per tanaman.  Faktor kedua penurunan dosis pupuk anorganik (A) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan yaitu: a0= tanpa pupuk anorganik, a1= 100% pupuk anorganik, a2= 75% pupuk anoganik, a3= 50% pupuk anorganik, dan a4= 25% pupuk anorganik.  Variabel penelitian yang diamati, yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, laju pertumbuhan relatif (LPR), umur panen, jumlah umbi, bobot basah umbi, bobot kering angin umbi per tanamani, bobot kering angin per hektar, kandungan flavonoid, serapan hara, efisiensi serapan, efisiensi fisiologis, dan efisiensi agronomis.

 Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh interaksi perlakuan POC sabut kelapa (K) dengan perlakuan penurunan dosis pupuk anorganik (A) memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan relatif (LPR) pada fase umur 6-7 MST dan umur panen. Perlakuan tunggal POC sabut kelapa (K) memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman (pada umur 4, 5, dan 6 MST), jumlah anakan (pada umur 3, 4, 5 dan 6 MST), LPR pada fase umur 8-9 MST, jumlah umbi dan bobot segar umbi.  Perlakuan k3 (600 ml per tanaman) memberikan hasil paling baik pada pengamatan tinggi tanaman (4, 5, dan 6 MST),  jumlah anakan (3,4,5 dan 6 MST), jumlah umbi, dan bobot segar umbi.  Perlakuan tanpa pupuk anorganik dan kurang dari 100% memberikan hasil lebih baik dari pada dosis 100%.  Kandungan flavonoid lebih ditentukan oleh penurunan dosis pupuk anorganik (70,48%) dibandingkan dosis POC sabut kelapa (1,01%).  Kombinasi k2a2  (400 ml POC +75% anorganik) merupakan perlakuan terbaik karena mampu menghemat 25 % pupuk anorganik, namun tetap menghasilkan pertumbuhan yang setara dengan perlakuan yang diberikan pupuk 100%.  Perlakuan k0a3 (0 POC+50% anorganik) atau k0a0 (kontrol) adalah perlakuan yang mendapatkan umur panen paling singkat dan cepat.  Penurunan dosis pupuk anorganik cenderung meningkatkan serapan hara (N, P dan K) dan efisiensi hara (serapan, fisiologis, agronomis) pada tanaman bawang merah. Peningkatan dosis POC kelapa cenderung menurunkan nilai efisiensi hara (serapan, fisiologis, agronomis).

 

Kata kunci: Bawang Merah, POC Sabut Kelapa, Pupuk Anorganik, Flavonoid. Serapan Hara, Efisiensi Serapan, Efisiensi Fisiologis, dan Efisiensi Agronomis.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI