DIGITAL LIBRARY



JUDUL:IDENTIFIKASI ENDOPARASIT DAN HISTOPATOLOGI SALURAN PENCERNAAN BELUT SAWAH (Monopterus albus) YANG BERASAL DARI TANGKAPAN ALAM DAN HASIL BUDIDAYA
PENGARANG:NAJWAH
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-02-05


Belut sawah (Monopterus albus) merupakan ikan air tawar bernilai ekonomis yang sering dikonsumsi masyarakat sebagai sumber protein hewani. Perbedaan kualitas lingkungan antara habitat alami dan lingkungan budidaya dapat memengaruhi kondisi fisiologis belut, termasuk kerentanannya terhadap infeksi parasit. Infeksi tersebut dapat menyebabkan gangguan metabolik hingga kerusakan jaringan pada saluran pencernaan, yang berisiko menurunkan kualitas dan kuantitas produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis endoparasit, serta menganalisis perbedaan tingkat infeksi endoparasit dan tingkat kerusakan jaringan saluran pencernaan belut sawah dari dua sumber berbeda. Penelitian dilakukan secara deskriptif-komparatif dengan menggunakan sepuluh sampel, terdiri dari lima ekor belut tangkapan alam dan lima ekor belut hasil budidaya. Identifikasi parasit dilakukan secara morfologis melalui pengamatan mikroskopis, sedangkan jaringan usus diproses menggunakan metode parafin dan pewarnaan hematoxylin-eosin (HE). Penilaian histopatologi meliputi nekrosis, infiltrasi sel radang, hemoragi, MMC, dan kongesti, yang dianalisis menggunakan sistem skoring dan dibandingkan antar kelompok dengan uji statistik nonparametric Mann-Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belut sawah dari lokasi tangkapan alam memiliki intensitas infeksi endoparasit lebih tinggi dibandingkan belut hasil budidaya. Intensitas infeksi pada belut tangkapan alam berkisar antara 6–25 individu/ekor (kategori sedang), sedangkan pada belut hasil budidaya berkisar antara 1–5 individu/ekor (kategori rendah). Berdasarkan organ pencernaan, intensitas infeksi endoparasit paling tinggi ditemukan pada jejunum, diikuti oleh ileum, dan paling rendah pada duodenum. Gambaran histopatologi saluran pencernaan menunjukkan adanya nekrosis, infiltrasi sel radang, hemoragi, MMC, dan kongesti. Persentase kerusakan jaringan usus pada belut tangkapan alam berkisar antara 25–50% yang tergolong kerusakan ringan hingga sedang, sedangkan pada belut hasil budidaya berkisar <25–30% yang tergolong normal hingga ringan. Tingkat kerusakan jaringan tertinggi ditemukan pada jejunum, sejalan dengan tingginya intensitas infeksi endoparasit pada organ tersebut.

Kata kunci:  endoparasit, histologi, infeksi, jaringan, mikroskopis

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI