DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN SEKTOR PERTANIAN KOTA PALANGKA RAYA | |
| PENGARANG | : | RISKA YULIANTI | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-04-01 |
Sektor pertanian di Kota Palangka Raya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, memegang peranan penting dalam struktur ekonomi lokal meskipun wilayah ini merupakan kota dengan kecenderungan urbanisasi yang tinggi. Berdasarkan data BPS Kota Palangka Raya tahun 2019–2023, kontribusi sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan terhadap PDRB berkisar antara 2,50 hingga 2,76 persen, dengan laju pertumbuhan yang sangat fluktuatif, mulai dari 6,75 persen (2019), turun menjadi 4,71 persen (2020), naik kembali ke 6,59 persen (2021), kemudian turun drastis menjadi 1,42 persen (2022), dan sedikit meningkat menjadi 1,49 persen (2023). Fluktuasi pertumbuhan ini mencerminkan adanya berbagai faktor yang secara dinamis memengaruhi kinerja sektor pertanian di wilayah perkotaan, yang berbeda dengan pola pertumbuhan di wilayah pedesaan.
Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan sektor pertanian Kota Palangka Raya, meliputi serapan tenaga kerja sektor pertanian, investasi sektor pertanian, tingkat produksi padi, tingkat produksi jagung, tingkat produksi ubi kayu, tingkat pendidikan, jumlah penduduk miskin, serta indeks harga beras, indeks harga jagung, dan indeks harga ubi kayu. Variabel terikat (Y) adalah pertumbuhan sektor pertanian yang diukur dari laju pertumbuhan PDRB sektor pertanian atas dasar harga konstan. Penelitian menggunakan data sekunder tahunan periode 1995–2024 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah, BPS Kota Palangka Raya, Universitas Palangka Raya, serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya. Metode analisis yang digunakan adalah model Autoregressive Distributed Lag (ARDL) dengan pengolahan data menggunakan software EViews 13.
Uji stasioneritas menggunakan Augmented Dickey-Fuller (ADF) Test menunjukkan bahwa tiga variabel stasioner pada tingkat level I(0), yakni pertumbuhan sektor pertanian (LnY), tingkat produksi jagung (LnX4), dan tingkat produksi ubi kayu (LnX5). Delapan variabel lainnya, yaitu serapan tenaga kerja (LnX1), investasi (LnX2), tingkat produksi padi (LnX3), tingkat pendidikan (LnX6), penduduk miskin (LnX7), serta indeks harga beras, jagung, dan ubi kayu (LnX8, LnX9, LnX10), stasioner pada pembedaan pertama I(1). Kombinasi derajat integrasi I(0) dan I(1) ini memenuhi syarat penggunaan model ARDL. Berdasarkan kriteria Akaike Information Criterion (AIC) melalui evaluasi terhadap 2.048 spesifikasi model, terpilih model ARDL(1,1,0,1,0,1,0,1,0,0,1) sebagai model terbaik dengan nilai AIC terendah sebesar 0,6084.
Hasil estimasi model ARDL (bentuk level) menunjukkan R-squared sebesar 0,7799, mengindikasikan bahwa 77,99% variasi pertumbuhan sektor pertanian dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen dalam model. Koefisien Error Correction Term (ECT) atau COINTEQ sebesar -1,3838 signifikan pada α = 1% (t-statistik = -10,166, prob. = 0,0000), mengkonfirmasi adanya mekanisme koreksi kesalahan yang valid. Uji kointegrasi (Bounds Test) menghasilkan nilai F-statistik sebesar 4,306 yang melampaui nilai kritis batas atas I(1) pada seluruh tingkat signifikansi termasuk 1% (3,610), sehingga terbukti adanya hubungan keseimbangan jangka panjang antara pertumbuhan sektor pertanian dengan kesepuluh variabel independen. Seluruh uji asumsi klasik terpenuhi: tidak terdapat autokorelasi (F-stat Breusch-Godfrey = 3,907, prob. = 0,060), residual berdistribusi normal (Jarque-Bera = 0,216, prob. = 0,898), tidak terdapat heteroskedastisitas (F-stat Breusch-Pagan-Godfrey = 1,167, prob. = 0,406), dan tidak terdapat multikolinieritas (VIF seluruh variabel < 10). Uji stabilitas CUSUM dan CUSUM of Squares mengkonfirmasi koefisien model stabil sepanjang periode pengamatan.
Dalam jangka pendek, model ECM menghasilkan R-squared sebesar 0,8749 dan Adjusted R-squared sebesar 0,8465, yang berarti 87,49% variasi pertumbuhan sektor pertanian jangka pendek dapat dijelaskan oleh variabel dalam model. Serapan tenaga kerja (D(X1,2)) berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien 1,300 (α = 1%), yang berarti setiap kenaikan 1% perubahan serapan tenaga kerja meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian sebesar 1,300%. Tingkat produksi padi (D(X3,2)) berpengaruh negatif signifikan dengan koefisien -0,762 (α = 1%), mencerminkan bahwa dominasi produksi padi menyerap sumber daya dari subsektor bernilai lebih tinggi. Tingkat produksi ubi kayu (D(X5)) berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien 0,419 (α = 1%), mencerminkan keunggulan komoditas ini pada lahan gambut dan lahan kering yang dominan di Kota Palangka Raya. Penduduk miskin (D(X7,2)) menunjukkan pengaruh negatif yang sangat besar dengan koefisien -50,074 (α = 1%), mengkonfirmasi bahwa kemiskinan merupakan hambatan struktural paling dominan bagi pertumbuhan sektor pertanian dalam jangka pendek. Indeks harga ubi kayu (D(X10,2)) berpengaruh negatif dengan koefisien -0,894 (α = 1%) dalam jangka pendek, yang mengindikasikan bahwa kenaikan harga ubi kayu mendorong konsumen beralih ke komoditas pengganti sehingga permintaan menurun.
Dalam jangka panjang, dari 10 variabel dalam persamaan kointegrasi, 6 variabel menunjukkan pengaruh signifikan. Serapan tenaga kerja (D(X1(-1))) memiliki pengaruh positif terbesar dengan koefisien 1,546 (α = 1%), lebih besar dibandingkan jangka pendek, yang mencerminkan akumulasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja pertanian dari tahun ke tahun. Tingkat produksi padi (D(X3(-1))) berpengaruh negatif signifikan dengan koefisien -1,360 (α = 1%), dan produksi jagung (X4) juga berpengaruh negatif dengan koefisien -0,524 (α = 5%), menunjukkan bahwa dominasi dua komoditas pangan pokok ini menggeser alokasi sumber daya dari komoditas bernilai lebih tinggi dan menghambat diversifikasi. Produksi ubi kayu (X5(-1)) berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien 0,634 (α = 1%), sesuai dengan keunggulan daya saing komoditas ini pada kondisi lahan Kota Palangka Raya. Penduduk miskin (D(X7(-1))) menunjukkan pengaruh negatif paling dominan dalam jangka panjang dengan koefisien -104,120 (α = 1%), yang semakin besar dibandingkan jangka pendek, mengkonfirmasi bahwa kemiskinan bersifat struktural dan kumulatif dalam menghambat pertumbuhan sektor pertanian. Indeks harga beras (D(X8)) berpengaruh positif signifikan dengan koefisien 2,742 (α = 5%), mencerminkan insentif jangka panjang bagi petani untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya ke sektor pertanian. Indeks harga ubi kayu (D(X10(-1))) berpengaruh positif dalam jangka panjang dengan koefisien 0,860 (α = 5%), berbeda arah dengan pengaruhnya dalam jangka pendek, menunjukkan penyesuaian perilaku produsen dalam jangka panjang.
Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa serapan tenaga kerja dan produksi ubi kayu adalah faktor pendorong pertumbuhan sektor pertanian Kota Palangka Raya baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sebaliknya, kemiskinan terbukti sebagai penghambat terbesar dan paling persisten, sementara dominasi produksi padi dan jagung menghambat diversifikasi ke subsektor yang lebih bernilai ekonomi tinggi. Indeks harga beras berperan sebagai insentif positif dalam jangka panjang, sedangkan indeks harga ubi kayu menunjukkan pola pengaruh yang berbeda antara jangka pendek (negatif) dan jangka panjang (positif). Kebijakan pengembangan pertanian di Kota Palangka Raya perlu memprioritaskan peningkatan kualitas tenaga kerja pertanian, pengentasan kemiskinan struktural melalui perluasan akses permodalan dan sarana produksi, pengembangan ubi kayu sebagai komoditas unggulan daerah, serta mendorong diversifikasi ke subsektor hortikultura dan perkebunan yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan dan karakteristik lahan setempat.
Kata kunci: pertumbuhan sektor pertanian, ARDL, investasi pertanian, volatilitas harga, tenaga kerja pertanian
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI