DIGITAL LIBRARY



JUDUL:STUDENT’S VALUE CRISIS IN TOXIC UNIVERSITY AND ACADEMIC BARBARISM A CASE OF UNIVERSITY LAMBUNG MANGKURAT
PENGARANG:ABDUL AZIS AL FATTAH
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-05-07


Pendidikan tinggi di Indonesia tengah menghadapi tantangan serius terkait integritas akademik, yang ditandai oleh kesenjangan antara legitimasi formal institusi dan pengalaman nyata mahasiswa. Fenomena ini tampak pada Universitas Lambung Mangkurat, di mana predikat akreditasi “unggul” menjadi dapat diperdebatkan ketika tidak selaras dengan kualitas layanan yang dirasakan mahasiswa sebagai pengguna akhir. Kesenjangan ini mengindikasikan potensi kegagalan dalam pemenuhan imperatif moral, yaitu kewajiban etis institusi untuk menyediakan pendidikan berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sebab-sebab mengapa akreditasi unggul Universitas Lambung Mangkurat menjadi dapat diperdebatkan dari perspektif imperatif moral yang dikemukakan oleh Edward Sallis, serta menguji pengaruhnya terhadap Student Values.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif kausal. Populasi penelitian berjumlah 33.838 mahasiswa aktif, dengan sampel sebanyak 400 responden yang ditentukan melalui teknik proportionate stratified random sampling menggunakan rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala interval 1 sampai 7 dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta regresi linier berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemenuhan imperatif moral secara keseluruhan berada pada kategori tidak berkualitas karena belum memenuhi ekspektasi mahasiswa. Dimensi imperatif moral berpengaruh positif dan signifikan terhadap Student Values dengan kontribusi sebesar 55,4 persen. Namun, secara parsial, beberapa variabel tidak menunjukkan pengaruh signifikan, yaitu komitmen terhadap kesuksesan mahasiswa, akses yang merata, dan transparansi tata kelola, yang mengindikasikan adanya keterbatasan sistemik dalam tata kelola institusi. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara standar formal akreditasi dengan kualitas substantif yang dialami mahasiswa, sehingga akreditasi unggul lebih mencerminkan kepatuhan administratif dibandingkan kualitas layanan yang sesungguhnya. Dalam perspektif kritis, kondisi ini mencerminkan kecenderungan praktik akreditasi seremonial dan dominasi orientasi berbasis metrik yang berpotensi mengabaikan dimensi kemanusiaan dalam pendidikan.

Berdasarkan temuan tersebut, diperlukan pergeseran dari tata kelola berbasis metrik menuju pendekatan yang berpusat pada mahasiswa. Institusi perlu meningkatkan transparansi dan responsivitas birokrasi, memprioritaskan perbaikan layanan dasar, serta mengintegrasikan etika kepedulian dalam praktik pendidikan. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan pendekatan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengalaman mahasiswa dan dinamika institusional.

 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI