DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Perbandingan Pengelompokan Indikator Penyusun IKPS Tahun 2023 menggunakan metode Agglomerative Hierarchical Clustering (AHC), Fuzzy C-Means (FCM), dan Kombinasi AHC-FCM | |
| PENGARANG | : | INDAH PRIMASDALI | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-06-18 |
Stunting masih menjadi permasalahan gizi kronis yang berdampak terhadap
kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pemerintah melakukan upaya
percepatan penurunan stunting melalui berbagai program yang salah satunya
dipantau menggunakan Indeks Khusus Penanganan Stunting (IKPS). Meskipun
secara nasional menunjukkan tren peningkatan, masih terdapat ketimpangan
capaian antarwilayah, sehingga diperlukan pendekatan analitis untuk
mengelompokkan wilayah berdasarkan karakteristik indikator stunting.
Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan provinsi di Indonesia
berdasarkan IKPS tahun 2023 menggunakan metode Agglomerative
Hierarchical Clustering (AHC), Fuzzy C-Means (FCM), dan kombinasi AHC-FCM,
serta membandingkan kinerja ketiga metode. Data yang digunakan berasal
dari 34 provinsi dengan 11 indikator penyusun IKPS yang mencakup aspek
kesehatan, gizi, perumahan, pangan, pendidikan, dan perlindungan sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah klaster optimal adalah dua
klaster, dimana metode AHC dengan pendekatan complete linkage dan ward
method menghasilkan nilai Calinski–Harabasz Index dan Silhouette Coefficient
tertinggi dibandingkan FCM dan kombinasi AHC-FCM. Hasil pengelompokan
menunjukkan Klaster 1 terdiri dari 30 provinsi dengan capaian indikator yang
lebih tinggi, sedangkan Klaster 2 terdiri dari 4 provinsi di wilayah Indonesia
timur dengan capaian indikator yang lebih rendah. Klaster kedua lebih rentan
terhadap permasalahan stunting sehingga memerlukan perhatian dan
intervensi yang lebih intensif dari pemerintah.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI