DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Analisis Komunikasi dan Koordinasi dalam Pengembangan Wisata Susur Sungai di Kota Banjarmasin (Studi pada Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata, Kelompok Sadar Wisata Kampung Hijau, dan Motoris Kelotok)
PENGARANG:PUTRI NABILA
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-06-26


ABSTRAK

Putri Nabila, 2210413220041, Analisis Komunikasi dan Koordinasi dalam Pengembangan Wisata Susur Sungai di Kota Banjarmasin (Studi pada Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata, Kelompok Sadar Wisata Kampung Hijau dan Motoris Kelotok). Dibimbing oleh Siti Hamidah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi dan koordinasi antara ketiga aktor yang terlibat langsung dalam pengembangan wisata susur sungai di Kota Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Dua teori yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Proses Komunikasi menurut Bovee dan Thill serta Faktor-Faktor Koordinasi menurut Hasibuan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi yang melibatkan pihak Disbudporapar Kota Banjarmasin, Pokdarwis Kampung Hijau, dan motoris kelotok sebagai pelaku wisata lokal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antara Disbudporapar, Pokdarwis Kampung Hijau, dan motoris kelotok dalam pengembangan wisata susur sungai telah berlangsung melalui berbagai forum tatap muka dari yang sifatnya formal sampai informal. Namun demikian, efektivitas penyampaian pesan belum sepenuhnya optimal karena informasi yang disampaikan hanya bersifat umum dan belum diikuti dengan petunjuk teknis ataupun aturan yang mengikat, khususnya terkait konsep kelotok singgah, sehingga antara ketiga aktor belum terdapat kesepahaman yang utuh. Dari sisi koordinasi, kerja sama antar aktor belum terjalin sebagaimana mestinya, dikarenakan beberapa kendala seperti ketiadaan batasan peran atau tanggung jawab yang jelas, keterbatasan sumber daya Pokdarwis, serta perbedaan kepentingan antara motoris kelotok yang lebih berorientasi pada jumlah penumpang dengan tujuan pengembangan destinasi wisata. Kondisi tersebut menyebabkan hingga saat ini implementasi kelotok singgah yang merupakan salah satu upaya pengembangan wisata susur sungai, belum berjalan secara konsisten.

Penelitian ini merekomendasikan agar pihak Disbudporapar dapat memperkuat komunikasi dengan menyampaikan informasi yang lebih operasional dan menjembatani koordinasi antara Pokdarwis dengan motoris kelotok. Juga diperlukan penyusunan peran atau aturan yang sifatnya mengikat agar setiap pihak memiliki rasa tanggung jawab untuk konsisten dalam melaksanakan setiap program pengembangan wisata susur sungai.

 

 

Kata Kunci: Komunikasi, Koordinasi, Wisata Susur Sungai, Kampung Hijau

 

 

ABSTRACT

Putri Nabila, 2210413220041, Analysis of Communication and Coordination in the Development of River Tourism in Banjarmasin City (A Study of the Department of Culture, Youth, Sports and Tourism, the Kampung Hijau Tourism Awareness Group, and Kelotok Motorists). Supervised by Siti Hamidah.

This study aims to determine how communication and coordination between the three actors directly involved in the development of river tourism in Banjarmasin City. This study uses a qualitative approach with a descriptive type. Two theories are used in this study, namely the Communication Process according to Bovee and Thill and Coordination Factors according to Hasibuan. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews, field observations, and documentation studies involving the Department of Culture, Youth, Sports and Tourism, the Kampung Hijau Tourism Awareness Group, and kelotok motorists as local tourism actors.

The results of the study show that communication between Disbudporapar, Pokdarwis Kampung Hijau, and kelotok motorists in the development of river tourism has taken place through various face-to-face forums, ranging from formal to informal. However, the effectiveness of message delivery has not been fully optimized because the information conveyed is only general in nature and has not been followed up with technical guidelines or binding rules, particularly regarding the concept of kelotok stops, so that there is still no complete understanding between the three actors. In terms of coordination, cooperation between actors has not been established as it should be, due to several obstacles such as the absence of clear roles or responsibilities, limited resources of Pokdarwis, and differences in interests between kelotok motorists who are more oriented towards the number of passengers and those who are more oriented towards the development of tourist destinations. These conditions have resulted in the inconsistent implementation of the kelotok singgah, which is one of the efforts to develop river tourism, to date.

This study recommends that the Disbudporapar strengthen communication by conveying more operational information and bridging coordination between Pokdarwis and kelotok motorists. It is also necessary to formulate binding roles or rules so that each party feels responsible for consistently implementing every river tourism development program.

 

Keywords: Communication, Coordination, River Tour, Green Village

 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI