DIGITAL LIBRARY



JUDUL:ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TERHADAP SURFACE RUNOFF PADA AREA PENAMBANGAN BATU GUNUNG DI AWANG BANGKAL
PENGARANG:NOVIA SARI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-07-03


Aktivitas penambangan batu gunung di wilayah Kalimantan memicu perubahan tata guna lahan, dari kawasan hutan alami menjadi area tambang terbuka. Perubahan ini berdampak signifikan terhadap kerusakan struktur tanah dan hilangnya tutupan vegetasi, Sehingga menurunkan kapasitas infiltrasi tanah serta memicu peningkatan aliran permukaan (surface runoff). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perubahan tata guna lahan pada tahun 2004, 2014, dan 2024, mengkaji pengaruh laju infiltrasi tanah terhadap aliran permukaan, serta menganalisis pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap surface runoff di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif berbasis analisis spasial dengan mengintegrasikan Sistem Informasi Geografis (SIG), metode Soil Conservation Service-Curve Number (SCS-CN), dan pemodelan Soil and Water Assessment Tool (SWAT). Analisis SIG digunakan untuk memetakan perubahan tata guna lahan pada tahun 2004, 2014, dan 2024. Sementara itu, analisis parameter statistik digunakan untuk menganalisis data curah hujan harian, sedangkan karakteristik infiltrasi lapangan diuji menggunakan model Horton untuk menentukan nilai Curve Number (CN). Selanjutnya, integrasi parameter CN dan curah hujan dihitung dengan metode SCS-CN untuk mengestimasi limpasan permukaan. Pada tahap akhir, pemodelan SWAT digunakan untuk mensimulasikan dan menghasilkan visualisasi peta sebaran surface runoff secara spasial. Hasil penelitian menunjukkan area tambang melonjak drastis dari 17,58% pada tahun 2004 menjadi 39,91% pada tahun 2024, sebaliknya kawasan hutan menyusut hingga tersisa 17,87%. Alih fungsi lahan ini menurunkan kapasitas infiltrasi tanah, yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai Curve Number (CN) komposit dari 34,43 menjadi 41,88 sehingga memperkecil retensi air tanah. Dampaknya, kondisi tahun 2024 menghasilkan puncak debit banjir tertinggi dengan kedalaman limpasan 12,04 hingga 24,24 mm (kategori kerentanan "Tinggi" hingga "Sangat Tinggi") di area tambang aktif. Kerusakan struktur dan pemadatan tanah akibat penambangan ini terbukti melampaui kemampuan infiltrasi, sehingga memicu lonjakan aliran permukaan di bagian hilir DAS. Kata Kunci: Surface Runoff, Tata Guna Lahan, Infiltrasi, Curve Number (CN), Sistem Informasi Geografis (SIG).

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI