DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | ANALISIS USAHA ES KELAPA MUDA DI KOTA BANJARBARU (Studi Kasus Es Kelapa Muda Khas NTB) | |
| PENGARANG | : | DESWINA MAHARANI PUTRI | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-07-23 |
Es kelapa muda merupakan salah satu minuman yang banyak diminati masyarakat sehingga memiliki peluang usaha yang cukup menjanjikan. Namun, dalam menjalankan usaha ini pedagang menghadapi berbagai risiko, seperti perubahan jumlah penjualan akibat kondisi cuaca dan peningkatan harga bahan baku yang dapat memengaruhi biaya produksi, pendapatan, dan tingkat kelayakan usaha. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya, penerimaan, pendapatan, kelayakan usaha menggunakan Revenue Cost Ratio (R/C Ratio), menganalisis sensitivitas usaha terhadap perubahan kondisi ekonomi, serta mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi pedagang es kelapa muda khas NTB di Kota Banjarbaru.
Penelitian dilaksanakan di Kota Banjarbaru pada Januari–Mei 2026 dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner terhadap lima pedagang es kelapa muda khas NTB yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan menghitung biaya tetap, biaya variabel, biaya total, penerimaan, pendapatan, Revenue Cost Ratio (R/C Ratio), serta analisis sensitivitas melalui beberapa skenario perubahan usaha, yaitu penurunan penjualan sebesar 10% dan 20% dengan asumsi biaya variabel ikut mengalami penurunan, serta kenaikan harga bahan baku kelapa muda sebesar 10% dan 20%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata biaya tetap usaha es kelapa muda khas NTB sebesar Rp762.569 perbulan dan biaya variabel sebesar Rp9.702.500 perbulan, sehingga total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp10.465.069 perbulan. Rata-rata penerimaan yang diperoleh pedagang sebesar Rp17.039.600 perbulan, dengan pendapatan bersih sebesar Rp6.574.531 perbulan. Hasil analisis kelayakan usaha menggunakan Revenue Cost Ratio (R/C Ratio)menunjukkan nilai sebesar 1,63, yang berarti usaha es kelapa muda khas NTB layak untuk diusahakan. Nilai tersebut menunjukkan bahwa setiap pengeluaran biaya produksi sebesar Rp1.000 mampu menghasilkan penerimaan sebesar Rp1.630.
Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa usaha es kelapa muda khas NTB masih mampu bertahan terhadap perubahan kondisi usaha. Pada skenario penurunan penjualan sebesar 10%, nilai RCR yang diperoleh sebesar 1,62, sedangkan pada penurunan penjualan sebesar 20%, nilai RCR sebesar 1,60. Sementara itu, pada skenario kenaikan harga bahan baku kelapa muda sebesar 10%, nilai RCR sebesar 1,54, dan pada kenaikan harga kelapa muda sebesar 20%, nilai RCR sebesar 1,46. Seluruh skenario menghasilkan nilai RCR lebih besar dari satu, sehingga usaha tetap tergolong layak dan mampu memberikan keuntungan meskipun mengalami perubahan kondisi penjualan maupun peningkatan biaya bahan baku.
Permasalahan utama yang dihadapi pedagang meliputi ketergantungan terhadap ketersediaan dan perubahan harga bahan baku kelapa muda, pengaruh kondisi cuaca terhadap jumlah pembeli, persaingan dengan pedagang sejenis, serta pencatatan keuangan yang masih sederhana. Oleh karena itu, pedagang disarankan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku, memperluas jaringan pemasok, melakukan pencatatan keuangan secara rutin, serta mempertahankan kualitas produk dan pelayanan agar usaha es kelapa muda khas NTB di Kota Banjarbaru dapat terus berkembang. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa usaha es kelapa muda khas NTB merupakan usaha yang menguntungkan, layak dikembangkan, dan memiliki kemampuan bertahan terhadap perubahan kondisi usaha.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI