DIGITAL LIBRARY



JUDUL:KOMPARASI DAN KORELASI TINDAK AGRONOMI DENGAN KARAKTER AGRONOMI DAN FISIOLOGI PEGAGAN (Centella asiatica L.) PADA BEBERAPA LOKASI DI KALIMANTAN SELATAN
PENGARANG:MERY AWALIA
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-07-27


Pegagan (Centella asiatica L.) merupakan tanaman obat tradisional yang telah lama dimanfaatkan masyarakat, termasuk di Kalimantan Selatan yang mengenalnya dengan nama "jalukap". Pegagan mengandung senyawa bioaktif seperti asiatikosida dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan, neuroprotektif, dan bahan baku kosmetik, sehingga permintaan pasar ekstrak pegagan dunia terus meningkat. Meskipun pegagan tumbuh di berbagai wilayah Kalimantan Selatan, budidaya pegagan di wilayah ini belum banyak dilakukan secara intensif. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang menganalisis perbedaan dan korelasi antara tindak agronomi dengan karakter agronomi dan fisiologi pegagan di beberapa lokasi di Kalimantan Selatan. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis perbedaan karakter agronomi dan fisiologi pegagan yang tumbuh di Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Tanah Laut; (2) menganalisis korelasi antara tindak agronomi dengan karakter agronomi dan fisiologi pegagan pada ketiga lokasi tersebut.

Penelitian menggunakan metode survei dan observasi dengan purposive sampling pada 15 responden pembudidaya/pemanfaat pegagan (5 responden per kabupaten/kota), dilaksanakan pada April–Mei 2026. Peubah yang diamati meliputi lima komponen tindak agronomi (pengolahan media tanam, frekuensi penyiraman, frekuensi pemupukan, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit), sebelas karakter agronomi (berat segar dan kering per rumpun, berat kering tajuk dan akar, rasio tajuk-akar, panjang tangkai daun, panjang dan lebar daun, luas daun, jumlah daun, panjang akar), serta lima karakter fisiologi (klorofil a, klorofil b, klorofil total, rasio klorofil a/b, dan flavonoid). Analisis komparasi menggunakan One-Way ANOVA (dengan uji lanjut Tukey HSD), Welch's ANOVA dan Kruskal-Wallis, sedangkan analisis korelasi menggunakan Spearman's Rank Correlation.

Hasil uji normalitas menunjukkan 11 dari 17 peubah berdistribusi normal, sedangkan 6 peubah (tindak agronomi, panjang tangkai daun, panjang daun, panjang akar, klorofil total, rasio klorofil a/b) dianalisis dengan Kruskal-Wallis. Karakter agronomi Kabupaten Banjar secara konsisten lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tanah Laut pada peubah berat segar per rumpun (7,60 g berbanding 4,00 g dan 3,53 g), berat kering per rumpun (1,31 g), berat kering tajuk (1,13 g), luas daun (19,22 cm² berbanding 8,49 cm² dan 10,51 cm²), serta lebar daun (5,71 cm berbanding 3,97 cm dan 4,19 cm). Peubah berat kering akar, rasio tajuk-akar, dan jumlah daun tidak berbeda nyata antarlokasi, demikian pula panjang tangkai daun, panjang daun, panjang akar, dan rasio a/b. Seluruh karakter fisiologi (klorofil-a, klorofil-b, klorofil total, rasio a/b, dan flavonoid) tidak berbeda nyata antara ketiga kabupaten/kota, meskipun kandungan flavonoid secara numerik lebih tinggi di Kabupaten Banjar (82,7 mg/mL QE) dibandingkan Kota Banjarbaru (59,6) dan Kabupaten Tanah Laut (58,5).

Hasil korelasi Spearman menunjukkan bahwa frekuensi penyiraman berkorelasi positif dan signifikan terhadap panjang daun (r = 0,762; p = 0,001), luas daun (r = 0,608; p = 0,016), lebar daun (r = 0,566; p = 0,028), dan berat kering tajuk (r = 0,576; p = 0,025). Pengendalian gulma berkorelasi positif dan signifikan  terhadap luas daun (r = 0,819; p = 0,000), lebar daun (r = 0,724; p = 0,002), panjang daun (r = 0,631; p = 0,012), dan rasio tajuk-akar (r = 0,598; p = 0,018). Pengolahan media tanam hanya berkorelasi signifikan dengan panjang daun (r = 0,713; p = 0,003). Frekuensi pemupukan dan pengendalian hama-penyakit tidak berkorelasi signifikan dengan seluruh karakter agronomi.

 

Kata Kunci: pegagan, tindak agronomi, karakter agronomi, karakter fisiologi. 

 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI