DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Syair Tarsul dalam Perspektif Semiotika Riffaterre | |
| PENGARANG | : | HANA KHAIRIYAH | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-07-28 |
Penelitian mengenai syair tarsul masih didominasi oleh kajian sosiokultural, komunikasi budaya, dan musikologi, sedangkan penelitian yang mengungkap makna puitisnya sebagai sistem tanda masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembacaan heuristik dan hermeneutik, mengidentifikasi matriks, model, dan varian, serta mengungkap hubungan intertekstualitas dalam syair tarsul berdasarkan perspektif semiotika Riffaterre. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa 31 syair tarsul yang telah dipilah dari 13 video pertunjukan pada berbagai konteks, meliputi upacara adat, perlombaan, dan pertunjukan umum. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan melalui tahapan transkripsi, pembacaan heuristik, identifikasi ketidaklangsungan ekspresi, pembacaan hermeneutik, penentuan matriks, model, dan varian, serta analisis hipogram untuk menemukan hubungan intertekstualitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa syair tarsul merupakan sistem tanda yang membangun makna melalui berbagai bentuk ketidaklangsungan ekspresi, berupa penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti. Pembacaan hermeneutik memperlihatkan bahwa syair tarsul tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan atau penyampai nasihat, tetapi juga sebagai representasi identitas budaya masyarakat Kutai. Matriks yang ditemukan secara umum mengarah pada pelestarian identitas budaya, pewarisan nilai leluhur, religiusitas, penghormatan terhadap sejarah, serta tanggung jawab sosial. Matriks tersebut diwujudkan melalui berbagai model dan varian yang memanfaatkan simbol alam, tokoh sejarah, legenda, maupun peristiwa budaya kontemporer. Analisis hipogram menunjukkan adanya hubungan intertekstualitas dengan legenda Kesultanan Kutai, sejarah lokal, ajaran Islam, serta sistem nilai masyarakat Melayu-Islam yang menjadi landasan penciptaan syair. Dengan demikian, syair tarsul tidak hanya memiliki fungsi estetis, tetapi juga berperan sebagai media transmisi memori budaya yang mentransformasikan sejarah, nilai religius, dan identitas kolektif masyarakat Kutai ke dalam bentuk puitis yang tetap relevan pada masa kini.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI