DIGITAL LIBRARY
| JUDUL | : | Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit Mandiri di Kabupaten Kotawaringin Timur | |
| PENGARANG | : | FAKHRI HUSAINI | |
| PENERBIT | : | UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT | |
| TANGGAL | : | 2026-08-03 |
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan perkebunan kelapa sawit mandiri di Kabupaten Kotawaringin Timur berdasarkan dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan, serta mengidentifikasi faktor yang paling mempengaruhi keberlanjutan perkebunan kelapa sawit mandiri di Kabupaten Kotawaringin Timur. Penelitian ini menetapkan dua Kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kotawaringin Timur, yaitu Kecamatan Cempaga dan Kecamatan Cempaga Hulu. Kedua kecamatan ini dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan kelapa sawit mandiri yang cukup luas di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, sehingga dianggap representatif dalam menggambarkan dinamika perkebunan kelapa sawit rakyat.
Penelitian ini menetapkan 76 petani sebagai sampel, dipilih menggunakan teknik simple random sampling berdasarkan jumlah petani yang mengelola perkebunan kelapa sawit di kedua kecamatan tersebut, serta 10 responden pakar yang dipilih sesuai dengan bidang yang dikaji. Dalam menganalisis status keberlanjutan, digunakan pendekatan Rapid Appraisal for Palm Oil (RAP-Palm Oil) dengan metode Multidimensional Scaling (MDS) sebagai alat analisis yang menyeluruh. Sedangkan untuk mengidentifikasi faktor yang paling mempengaruhi keberlanjutan perkebunan kelapa sawit mandiri digunakan analisis prospektif partisipatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit mandiri di Kabupaten Kotawaringin Timur berada pada kategori “berkelanjutan” pada ketiga dimensi yang dianalisis, dengan nilai indeks dimensi sosial 92,93 (tertinggi), ekonomi 86,28, dan lingkungan 79,58 (terendah); seluruh model Multidimensional Scaling (MDS) teruji layak (stress <0,25; R² 0,95–0,98; selisih Monte Carlo <5%). Meskipun berkelanjutan, capaian ketiga dimensi belum seimbang, dengan lingkungan menjadi dimensi paling lemah akibat terbatasnya luas lahan dan minimnya tanaman penutup tanah. Analisis leverage terhadap 11 atribut sensitif serta analisis prospektif partisipatif bersama 10 pakar mengidentifikasi lima faktor kunci dominan, yaitu: akses penjualan tandan buah segar (TBS), kemudahan akses informasi harga, status pendapatan perkebunan, keseimbangan distribusi dan keuntungan, serta penyerapan tenaga kerja. Kelima faktor tersebut seluruhnya berasal dari dimensi ekonomi, menegaskan bahwa keberlanjutan perkebunan sangat bergantung pada relasi petani dengan pasar, kemampuan usaha tani menghasilkan pendapatan memadai, serta peran perkebunan dalam menyerap tenaga kerja lokal, sebagaimana tercermin dalam tiga skenario strategis (pesimis, moderat, dan optimis) yang disusun sebagai dasar perumusan kebijakan.
| NO | DOWNLOAD LINK |
| 1 | FILE 1 |
File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI