DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Perkembangan Motif Tudung Saji Hias (Sahab) sebagai Warisan Budaya Lokal Warga Kelurahan Mendawai di Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 1991-2025.
PENGARANG:MUHAMAD DEJAN RAHMAN ALGIFARI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-08-08


Muhamad Dejan Rahman Algifari, 2026. Perkembangan Motif Tudung Saji Hias 

(Sahab) sebagai Warisan Budaya Lokal Warga Kelurahan Mendawai di 

Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 1991-2025. 

Pembimbing (I) Drs. Rusdi Effendi, M.Pd. dan Pembimbing (II) Dewicca Fatma 

Nadilla, M.Pd.

Kerajinan Tudung Saji Hias (Sahab) di Kelurahan Mendawai tengah berada 

dalam kondisi yang rentan punah. Hal ini disebabkan oleh kurangnya dokumentasi, 

minimnya regenerasi di kalangan pengrajin, serta gempuran budaya asing dan 

produk massal yang mulai mengikis nilai sakral kerajinan tersebut. Penelitian ini 

bertujuan untuk memaparkan proses pembuatan dan dinamika motif Sahab, 

sekaligus mengkaji bagaimana perubahan motif mempengaruhi pergeseran 

fungsinya sebagai salah satu warisan budaya lokal.

Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif deskriptif. Pengumpulan 

data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap tujuh informan, yaitu dua 

orang pengrajin (Ibu Halimah dan Ibu Rusdiana), seorang tokoh masyarakat (Bapak 

Muhammad Yusuf), serta beberapa konsumen dan warga umum. Selain itu, 

dilakukan pula observasi partisipatif selama proses produksi dan studi dokumen. 

Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Adapun 

analisis data mengikuti model Miles dan Huberman, yang mencakup reduksi data, 

penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan Sahab terdiri atas 

tujuh tahap manual yang diwariskan turun-temurun sejak tahun 1960-an. 

Perkembangan motif berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama (1960-an) 

bercirikan motif sederhana (geometris dan flora) yang sarat makna simbolis. Fase 

kedua (1991/1992) ditandai oleh dokumen BIPIK yang secara resmi menggeser 

fungsi Sahab menjadi cinderamata dengan berbagai motif sesuai pesanan. Fase 

ketiga (pasca 1990-an hingga 2025) menunjukkan munculnya motif hibrid yang 

memadukan unsur tradisional dan modern sebagai respons terhadap pariwisata dan 

permintaan pasar. Perubahan fungsi Sahab terjadi dari perangkat ritual dalam 

upacara adat (Tasmiah) menjadi komoditas cinderamata, hiasan dinding, dan 

simbol identitas budaya, yang dipengaruhi oleh faktor internal (daya cipta, pola 

pikir, keterampilan, pengetahuan) dan faktor eksternal (budaya, lingkungan, 

hubungan sosial-budaya, ekonomi, teknologi).

Penelitian ini menyimpulkan bahwa perkembangan motif Sahab secara 

signifikan mendorong pergeseran fungsinya dari benda ritual menjadi produk 

estetis dan medium komunikasi budaya. Diperlukan regenerasi pengrajin, 

dokumentasi sistematis, serta dukungan kebijakan pemerintah daerah untuk 

melestarikan Sahab sebagai identitas budaya Kotawaringin Barat.


Kata kunci: Tudung Saji Hias (Sahab), motif, fungsi, warisan budaya lokal.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI