DIGITAL LIBRARY



JUDUL:Kadar Metabolit Hormon Aldosteron Feses Sebagai Monitoring Kesehatan Bekantan (Nasalis larvatus) di Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak
PENGARANG:MUHAMMAD RAFLI PRATAMA SAPUTRA
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-08-27


Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata endemik Kalimantan berstatus terancam punah yang kelangsungan hidupnya bergantung pada ekosistem mangrove dengan salinitas yang berfluktuasi. Pemantauan kesehatan fisiologis satwa ini di habitat in-situ (alam liar) sangat krusial, namun sering terkendala oleh metode invasif yang dapat memicu stres akut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil dasar (baseline) kadar metabolit hormon aldosteron pada feses bekantan di Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak menggunakan metode non-invasif. Hormon aldosteron difokuskan sebagai indikator karena perannya yang vital dalam menjaga homeostasis cairan dan elektrolit sebagai respons terhadap tekanan salinitas lingkungan. Pengumpulan sampel feses dilakukan secara observasional terhadap 16 individu jantan dan 4 individu betina untuk mengevaluasi respons fisiologis berdasarkan jenis kelamin. Ekstraksi sampel dilakukan menggunakan metanol 80%, lalu dianalisis kadarnya melalui metode Competitive Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) pada panjang gelombang 450 nm. Keandalan instrumen diuji melalui uji paralelisme, dan data dianalisis menggunakan statistik deskriptif kuantitatif. Hasil uji paralelisme menunjukkan nilai koefisien determinasi () sebesar 0,9617, yang mengonfirmasi bahwa metode analitik ini sangat valid dan reliabel. Konsentrasi rata-rata metabolit hormon aldosteron pada populasi bekantan tercatat sebesar 44,89 ng/gr feses. Secara spesifik, kelompok bekantan jantan memiliki kadar rata-rata 45,76 ng/gr feses (rentang 0,34 - 113,31 ng/gr feses), sedangkan betina memiliki rata-rata 41,43 ng/gr feses (rentang 6,61 - 65,50 ng/gr feses). Sebagai kesimpulan, profil sekresi yang relatif seimbang antara jantan dan betina menunjukkan bahwa fluktuasi aldosteron bekantan lebih kuat dipengaruhi oleh respons ekofisiologis adaptif untuk mempertahankan keseimbangan osmotik akibat paparan salinitas mangrove, dibandingkan oleh faktor dimorfisme seksual.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI