DIGITAL LIBRARY



JUDUL:EVALUASI KINERJA POLA PENGANGKUTAN SAMPAH “SURUNG SINTAK” KOTA BANJARMASIN
PENGARANG:MUHAMMAD NABIL NURDEA
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-09-01


Kota Banjarmasin menghadapi tantangan pengelolaan sampah akibat kepadatan penduduk yang tinggi (6.929 jiwa/km²) dan keterbatasan lahan untuk Tempat Penampungan Sementara (TPS), dengan timbulan sampah mencapai 477,23 ton/hari. Sebagai respons, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin mengembangkan program "Surung Sintak" sistem pemindahan dan pengangkutan sampah tanpa TPS permanen, di mana truk compactor mendatangi langsung titik-titik kumpul yang dilayani gerobak pengumpul. Program ini dapat dipahami sebagai modifikasi dari sub-sistem pengumpulan langsung (SNI 19-2454-2002 dan SNI 3242:2008) yang diintegrasikan dengan pola pengangkutan Stationary Container System (SCS) tanpa kontainer permanen. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi eksisting pola pengangkutan Surung Sintak dan mengevaluasi kinerjanya berdasarkan empat indikator: efektivitas rute (ton/km), deadheading rate (%), efektivitas waktu (%), dan efisiensi biaya operasional (%). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-evaluatif melalui survei lapangan selama 7 hari berturut-turut terhadap seluruh 7 armada compactor truck aktif, mencakup pencatatan rute berbasis GPS, waktu operasional, dan data timbangan di TPA Basirih.

Hasil penelitian menunjukkan program Surung Sintak melayani 10 titik kumpul di 5 kecamatan Kota Banjarmasin dengan kontribusi rata-rata 56,93 ton/hari (11,9% dari timbulan harian kota). Evaluasi kinerja pada seluruh indikator berada di bawah standar acuan: efektivitas rute rata-rata 0,257 ton/km (kategori "kurang"); deadheading rate rata-rata 41,89%, menempatkan seluruh armada dalam kategori "tidak efektif" dan menjadi temuan paling kritis karena merupakan satu-satunya indikator dengan ambang baku literatur; efektivitas waktu rata-rata 42,95%, jauh di bawah sistem pembanding di Hoan Kiem, Hanoi (62,4%); serta efisiensi biaya rata-rata Rp14.931/ton dengan variasi antar-armada 55,70%, di mana hanya 3 dari 7 armada tergolong sangat baik berdasarkan Indeks Efisiensi Biaya Relatif (IEBR). Rendahnya kinerja pada keempat indikator secara struktural disebabkan oleh desain program tanpa TPS permanen, bukan oleh perencanaan rute yang buruk. Ditemukan pula bahwa mekanisme pemadat pada truk compactor tidak pernah dioperasikan secara aktif di lapangan, sehingga kapasitas angkut belum termanfaatkan optimal armada terbaik (DA 8309 JF) mampu mengangkut 9,01 ton per ritasi tanpa pemadatan, mengindikasikan potensi efisiensi jumlah armada. Variasi kinerja antar-armada cukup besar, dengan DA 8309 JF konsisten sebagai performer terbaik, sementara performer terendah bervariasi per indikator.

Penelitian merekomendasikan tiga langkah perbaikan: (1) optimasi kapasitas kendaraan angkut melalui standardisasi penggunaan mekanisme pemadat; (2) penguatan koordinasi dan kedisiplinan antara petugas gerobak dan pengemudi truk untuk mengurangi waktu tunggu operasional; dan (3) pembuatan pool armada yang efektif di tiap kecamatan guna mengurangi deadheading akibat titik keberangkatan yang belum terstandardisasi.

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI