DIGITAL LIBRARY



JUDUL:ANALISIS USAHA JAMUR TIRAM DI KAWASAN EKOWISATA RUMAH LIMBAH BONSAI KELAPA BORNEO BANJARBARU
PENGARANG:HIDAYATI
PENERBIT:UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TANGGAL:2026-10-05


Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah memiliki peran penting dalam perekonomian lokal, termasuk budidaya jamur tiram yang bernilai ekonomi tinggi, mudah diusahakan, dan sejalan dengan konsep ekonomi sirkular. Usaha jamur tiram di kawasan Ekowisata Rumah Limbah Bonsai Kelapa Borneo Banjarbaru dikelola secara mandiri dengan memanfaatkan limbah serbuk gergaji sebagai media baglog. Keberadaan usaha di kawasan wisata memberikan peluang pengenalan produk sekaligus tantangan terkait lingkungan produksi yang steril. Analisis biaya, penerimaan, keuntungan, dan kelayakan usaha diperlukan untuk menilai keberlanjutan usaha tersebut.

Penelitian ini bertujuan menganalisis biaya produksi, penerimaan, dan keuntungan usaha jamur tiram serta menilai kelayakan usahanya. Penelitian menggunakan metode studi kasus pada satu unit usaha di Ekowisata Rumah Limbah Bonsai Kelapa Borneo, Kelurahan Loktabat Utara, Kota Banjarbaru. Data primer dikumpulkan berdasarkan catatan kas bulanan periode Juni 2025 hingga Mei 2026. Kelayakan usaha dinilai melalui Revenue cost ratio dan Profit rate yang dibandingkan dengan tingkat inflasi.

Hasil penelitian menunjukkan biaya produksi rata-rata sebesar Rp4.937.946 per bulan, terdiri atas biaya variabel Rp4.297.350 dan biaya tetap Rp640.596. Penerimaan total mencapai Rp6.540.350 per bulan yang bersumber dari penjualan jamur tiram kepada pengepul, penjualan langsung kepada wisatawan, dan sewaktu-waktu dari penjualan baglog. Keuntungan yang diperoleh sebesar Rp1.602.404 per bulan. Nilai R/C ratio sebesar 1,32 menunjukkan usaha menguntungkan dan layak dijalankan, sementara Profit rate sebesar 32% jauh melebihi tingkat inflasi 3,61% sehingga usaha dinyatakan layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan. Namun, kelayakan tersebut merupakan hasil analisis atas penerimaan usaha secara keseluruhan yang berasal dari gabungan penjualan kepada pengepul dan wisatawan, dengan penjualan kepada pengepul sebagai penopang utama, sehingga keterlibatan dalam kegiatan ekowisata belum menjamin kelayakan usaha apabila hanya bertumpu pada penerimaan dari aktivitas edukasi wisata semata.

Berdasarkan hasil tersebut, disarankan agar pemilik usaha menyediakan ruang produksi yang terpisah antara area produksi utama yang steril dengan area khusus bagi kunjungan wisatawan guna menjaga sterilitas produksi tanpa mengurangi fungsi edukasi; pengelola Ekowisata Bonkla Borneo terus mengembangkan konsep pengelolaan limbah yang berorientasi pada ekonomi sirkular dengan memperluas kerja sama antarunit UMKM; serta peneliti selanjutnya mengkaji Ekowisata Bonkla Borneo secara terpisah dari usaha pribadi UMKM, dengan fokus pada strategi peningkatan kualitas edukasi, upaya menarik minat kunjungan wisatawan, urgensi pemisahan pengelolaan usaha dan ekowisata untuk menjaga sterilisasi produksi, serta pengaruh keterlibatan ekowisata terhadap pengenalan produk, minat beli dan loyalitas konsumen sebagai kontribusi non-finansial bagi keberlanjutan usaha.

 

Berkas PDF
NODOWNLOAD LINK
1FILE 1



File secara keseluruhan dapat di unduh DISINI